Cinta Setelah Menikah

Bab 15 Menganggapnya sebagai Udara

Bab 15 Menganggapnya sebagai Udara

Kenzie bermimpi, dalam mimpi itu, dia kembali ke kota asalnya, dan lagi kembali ke sekolahnya, kemeja putih Kak Steven begitu menyilaukan di bawah sinar matahari, tubuhnya yang panjang begitu tinggi, begitu membanggakan. Gigi putih yang rapi, senyumannya menyilaukan, berkata padanya: "Kenzie, cepat lari, sudah terlambat!"

Ketika terbangun, sudah jam 7.30, dia ada kelas pagi hari ini, butuh lebih dari 20 menit untuk tiba di kampusnya dari rumah, jika tidak buru-buru, ia benar-benar akan terlambat!

Kenzie bangun, menyikat gigi dan mencuci wajahnya, mengenakan gaun berwarna biru yang dicuci hingga memudar itu dengan secepat mungkin, meraih tasnya dan berlari ke kampus. Demi menghemat biaya asrama, dia lebih memilih tinggal di rumah di komplek Lodan yang kumuh.

Antrian sudah sangat panjang di depan stasiun. Kenzie menghela nafas, berdiri di ujung antrian. Tiba-tiba teringat kata-kata Kakak kelasnya dalam mimpi: "Kenzie, cepat lari, sudah akan terlambat!"

Ya, sejak bisnis Ayahnya bangkrut, dalam hidupnya ia terus berlari tanpa henti. Cepat lari, cepat lari! Apapun yang dilakukan, dia harus bekerja keras sekuat tenaga.