Cinta Setelah Menikah

Bab 68 Apakah Merindukanku

Bab 68 Apakah Merindukanku

Steven sudah menunggunya selama tiga tahun. Sampai bisnis keluarganya mengalami krisis, di bawah permohonan Kakek, ia harus menikahi Betty, ini semua dilakukan untuk keluarga. Tapi dalam tiga tahun ini, setiap hari, dia memikirkan Kenzie.

Pada daftar rawat inap, Steven melihat sekilas nama Kenzie. Jatungnya tiba-tiba berdebar tak karuan!

Dengan tangan gemetar mengetuk pintu bangsal Kenzie, Steven dengan gelisah menunggu Kenzie yang telah pergi selama tiga tahun.

Ketika mendengar ketukan di pintu, Kenzie mengira itu adalah Bibi Dewi. Sambil memegang secangkir teh panas di tangannya dan berjalan untuk membuka pintu.

Pintu terbuka. Didepannya muncul wajah Steven yang tampan dan rupawan, dengan mata terkejut dan canggung, tersenyum dan melihat Kenzie. Gelas di tangannya jatuh ke lantai, dan tumpahannya memercik di sekitar lantai, terdengar suara keras. Namun, Kenzie dan Steven sepertinya tidak mendengarnya sama sekali.

Mereka menatap wajah satu sama lain, empat mata saling berhadapan, ada seribu kata, tapi mereka tidak tahu harus memulai dari mana...

"Kenzie, kamu baik-baik saja?" dengan canggung, Steven bertanya. Suara itu sedikit bergetar, tetapi itu adalah kehangatan dan daya tarik dalam ingatan Kenzie.

Mendengar kalimat tersebut air matanya rasanya ingin keluar, tapi air mata itu ia tahan. Kenzie memandang Steven begitu dalam, ia terlihat sangat bodoh.

Wajahnya tampan dan lembut, tubuhnya dengan sedikit aroma mint, tercium hingga ke hidung Kenzie, menyegarkan dan bersih, dan temperamennya yang lembut dan sabar, sangat cocok dengan rupanya.

Dia ingin berbicara, tetapi tenggorokannya seperti tersedak, tak bisa berbicara. tidak bisa mengatakan apa-apa sama sekali.

"Kenzie, Kenzie... akhirnya aku menemukanmu..." Suara lembut Steven terdengar parau, ia berbisik, memanggil nama Kenzie berulang kali. Tangan menarik Kenzie ke dalam pelukannya.

Takut jika Kenzie akan menghilang kapan saja, ia memeluknya begitu rat, sehingga Kenzie sangat dekat dengan dadanya yang hangat, dia dapat dengan jelas mendengar jantungnya berdetak kencang.

Kenzie dipegang olehnya, kepalanya bersandar di dadanya, matanya perih menahan tangis.

"Kenzie, selama bertahun-tahun ini kamu pergi kemana? Aku mencarimu kemana-mana..." Suara Steven dengan pelan, ada kerinduan yang jelas dalam suaranya.

"Aku... maaf..." tenggorokan Kenzie seperti kaku dan tidak bisa mengatakan kalimat lengkap.

"Tidak perlu minta maaf, kamu tidak harus meminta maaf kepadaku." Telapak tangan hangat Steven perlahan membelai rambutnya yang panjang, dan bergumam pada dirinya sendiri, "Kenzie, bagaimana kabarmu?"

Bagaimana kabarnya?

Apakah dirinya baik baik saja?

Air mata Kenzie bergejolak. Kenzie menangis diam-diam.

Bagaimana keadaannya? Dia mengandung anak yang tidak jelas siapa ayahnya, dia adalah wanita simpanan, seperti dipenjara dan ditawan. Ketika tuan besar berada dalam suasana hati yang baik, dia akan memberinya kasih sayang, tetapi jika suasana hatinya buruk, hanya ada amarah dan penghinaan yang akan di terimanya.

Bagaimana kabarnya?

Dia tidak baik. Sangat buruk.

"Kenzie, kamu memiliki nomor telepon rumahku, mengapa kamu tidak meneleponku?" Tanya Steven dengan cemas, suara itu bergetar, tangannya menggenggamnya Kenzie erat, tidak ingin melepaskannya.