Cinta Setelah Menikah

Bab 82 Terjaga Semalaman

Bab 82 Terjaga Semalaman

"Di dalam perutku sudah ada anakmu! " kalimat pendek ini, membuat Steven dan Kenzie termenung ditempat.

Ombak laut dengan lembut menghamparkan pasir pantai, dengan ritme yang tak pernah berubah, tidak memperdulikan cinta dan benci.

"Kakak Steven, aku, aku sudah harus pulang….."

Kenzie berkata dengan datar, memejamkan matanya sebentar, bulu matanya yang panjang membentuk bayangan di bawah matanya. Steven sama sekali tidak bisa melihat jelas ekspresinya.

Ia hanya bisa diam.

"Aku sudah harus pergi." Kenzie menatap Steven, berusaha agar suaranya tidak dipengaruhi oleh emosinya.

Steven memutuskan teleponnya. Melihat kejauhan, tidak bersuara, hanya berdiam.

Betty hamil... setelah malam itu, malam ketika ia mabuk itu, Betty tiba tiba hamil. Steven, apakah dia masih mempunyai alasan untuk meminta Kenzie tetap tinggal? Steven sudah tidak memiliki alasan lagi, terlebih dia sudah tidak mempunyai hak untuk meminta Kenzie tinggal.

Kenzie, sudah bukan miliknya lagi. Bertemu setelah tiga tahun lamanya, Steven mengira ini merupakan kebahagiaan yang telah lama ia tunggu, tetapi ternyata, langit seperti sedang mempermainkannya. Mimpi yang indah, selalu saja dihancurkan.

Steven sama sekali tidak berani memandang Kenzie. Steven takut jika dia tidak bisa menahan diri untuk menarik Kenzie masuk kedalam pelukannya, tidak bisa menahan diri untuk meminta Kenzie tetap berada di sisinya.

Betty hamil, dan dia akan segera menjadi seorang ayah, tapi ia sama sekali tidak bahagia, ia tidak bahagia walau ia akan menjadi seorang ayah.

Dibawah kondisi seperti ini, jika dia sekali lagi meminta Kenzie untuk tinggal disisinya, itu sama saja seperti merendahkan Kenzie. Dia mempunyai hak apa untuk meminta Kenzie tinggal disampingnya?

Dia, sudah kehilangan Kenzie untuk selamanya.

Hatinya, terasa seperti hancur berkeping-keping. Dengan lembut ia berkata: "baik, aku akan mengantarmu."

Kenzie ingin memberikan senyuman kepada Steven. Tetapi ia tak mampu, dia sama sekali tidak bisa tersenyum.

Bukankah ini sangat bagus? Kakak senior Steven sudah akan menjadi ayah, bukankah Kenzie seharusnya memberinya selamat? Tetapi kenapa hatinya begitu berat untuk mengatakannya…..

Dua orang itu tanpa bicara sama sekali, pergi meninggalkan rumah tersebut, langakah kaki mereka terasa sangat lambat, berharap waktu bersama menjadi lebih panjang, meskipun hanya satu detik saja…..

Namun didunia ini tidak ada yang abadi, selalu ada yang namanya perpisahan, cepat atau lambat, tetap harus mengucapkan kata perpisahan, menghilang dari pandangan satu sama lain.