Cinta Setelah Menikah

Bab 104 Begitu Menderita

Bab 104 Begitu Menderita

Si kecil sudah kenyang, menutup mata dan terlelap dalam tidurnya. Di pipi berwarna merah muda nya masih terlihat senyuman kebahagiaan.

Kenzie melihat pipi si kecil dengan diam, dalam hati terasa nyaman dan senang..

Apakah ini yang dinamakan kasih Ibu? Dia sedih memikirkan putrinya, masih belum sempat melihat dunia ini pun sudah dibawa pergi, sungguh menyayat hati jika dipikirkan.

Dengan pelan dia membaringkan Ken ke ranjang, dan memakaikan selimut untuknya, Kenzie menjaganya di tepi ranjang, melamun menatap wajah Ken yang sudah tertidur pulas.

Reyhan masih berdiri di samping dan melihat Kenzie, hatinya terasa tenang.

Dia belum pernah menemui perempuan seperti Kenzie. Kebesaran kasih Ibu membuatnya terlihat sangat suci, anak ini sepertinya sudah melekat dalam hatinya.

Reyhan merasa iri, iri dengan anak sendiri, karena bisa mendapatkan kasih Kenzie yang begitu lembut, dan perhatian yang penuh.

Tiba-tiba, Kenzie ditarik oleh Reyhan!

Dia didekap oleh Reyhan di dinding, dan tubuhnya terkunci, kemudian Reyhan menciumnya dengan liar, dengan jahat, seperti ingin merampas nafasnya.

Dan Kenzie hanya merasa hampa, di depan Ken, kok dia berani melakukannya? Di samping sedang terbaring bayi kecil, bagaimana mungkin dia memperlakukannya seperti wanita murahan?

Kenzie menendangnya dengan sekuat tenaga, meninjunya. "Lepaskan aku! Cepat lepaskan aku, kamu sudah gila ya!"

Kenzie merasa bagian dadanya terasa sesak.

Reyhan menunduk dan melihatnya, dengan pandangan yang campur aduk, tetapi wajahnya datar tanpa ekspresi.

Dia mengerutkan kening, melihat lelaki yang tidak berekspresi yang entah sedang memikirkan apa di depannya. Hati Reyhan, susah untuk ditebak, sebenarnya apa mau dia lakukan?

"Reyhan, apa yang kamu mau? Sebenarnya apa yang kamu mau?" Kenzie menanyakan. "Kenapa kamu terus menyiksa aku? Aku bukan perempuan yang kamu mau, bukan seperti selir-selirmu yang lain, kenapa kamu mengganggu aku terus? Aku benci kamu, benar-benar benci!"

Reyhan mendengar perkataannya, melihat wajahnya yang tidak senang, dalam hatinya terasa seperti ditarik-tarik!