Cinta Setelah Menikah

Bab 105 Jadilah Wanitaku

Bab 105 Jadilah Wanitaku

Kenzie melihat Reyhan dengan waswas, kemudian ingin menarik selimut menutupi tubuhnya. Reyhan malah menahan selimut, tubuh yang besar itu hendak menghampiri Kenzie.

"Jangan sentuh aku!" Kenzie mendorongnya.

Dia malah memeluknya dengan erat: "Kamu dengarkan aku dulu!"

Kenzie merasakan seolah seluruh tulang di tubuhnya dipeluk erat oleh laki-laki itu, meski merasa tulang rusuknya dipeluk hingga kesakitan, dia tetap diam disana dan tidak bergerak, Reyhan bebas memeluknya. Dalam wajahnya terlihat ekspresi dingin sedingin es: "Reyhan, lepaskan aku!"

"Aku tidak mau!" Reyhan memeluknya semakin erat, seperti anak kecil yang sedang ingin dimanja.

Kenzie merasakan nafas hangat Reyhan menghembus di telinganya, dan Reyhan tidak melakukan apapun, hanya memeluknya, dan berkata pelan di telinganya: "Kenzie, jadilah wanitaku! Aku tahu kamu menyayangi Ken, maka tinggallah di sisi Ken dan anggap dia sebagai anakmu, mau kan?"

Kenzie mendengar kalimat ini, dalam hatinya malah timbul emosi, "Sekarang kamu menggunakan Ken sebagai alasan?"

"Bukan begitu!" Dia berkata dengan suara rendah

"Kalau bukan begitu lalu bagaimana?" Dia bertanya dengan suara berat, suhu suaranya sudah mencapai suhu es.

Akhirnya, Kenzie meronta, mendorongnya dengan sekuat tenaga. "Cepat lepaskan aku, aku benci kamu!"

Reyhan yang didorongnya, dan langung menangkapnya dengan tangan, malah menarik dan merobek sprei di ranjang, dan sprei itu pun terlepas dari ranjang.

Reyhan tiba-tiba berhenti, kemudian dengan sekuat tenaga menarik, akhirnya Kenzie terjatuh ke pelukannya, kemudian dia berbalik dan mendekap Kenzie ke ranjang.

Tatapan matanya mengagetkan Kenzie: "Malu? Bukan pertama kali dipeluk kan?"

Empat mata saling menatap, tiba-tiba wajah Kenzie menjadi merah, dan emosi meledak tiada batas, dia berupaya meronta tetapi sekujur tubuhnya tidak bertenaga, ia hanya mampu pasrah ditimpa Reyhan yang bertubuh besar, sedikitpun tidak dapat bergerak.

Reyhan melihatnya, dan suaranya terdengar berat dan sedikit serak, "Aku tidak sengaja melakukannya, kamu sendiri yang mau meronta. Kenzie, kamu yang memancing dan menggoda aku!"

"Reyhan!" Kenzie marah. "Kamu sungguh tidak tahu malu! Kapan aku menggoda kamu! Aku lebih memilih kamu enyah dari hadapan aku!"

Dia mengerutkan kening, tatapan mata terkunci pada Kenzie. "Sungguh kamu sebenci ini kepadaku? Tetapi bukannya dulu kamu bilang kamu memiliki perasaan terhadapku? Kamu memiliki perasaan terhadapku, walau hanya mengatakannya 1 kali tapi juga bisa dianggap kan?"

"Reyhan!" Mukanya merah dan menghentikan perkataannya.

"Aku masih ingat beberapa malam lalu, kamu sangat tertarik dengan aku!" Reyhan tertawa dengan licik, kata-kata diucapkan begitu saja. "Bukankah begitu?"