Cinta Setelah Menikah

Bab 111 Trik Tarik Ulur

Bab 111 Trik Tarik Ulur

Luka Reyhan akhirnya membaik. Kenzie pun akhirnya bisa bernafas lega. Di rumah sakit setiap hari bersama Reyhan membuat hubungan mereka berdua semakin dekat.

Kakek Reyhan menyuruh para pelayannya menyiapkan hidangan yang banyak dan enak untuk menyambut Reyhan kembali ke rumah.

"Reyhan, Tuan Holt, walikota kota C, sudah mengurusnya semua. Kamu istirahat sehari lagi, besok kita akan pulang ke kota C, proyek disana harus segera diurus." Kakek Reyhan meminum anggur putih sambil bicara pada Reyhan.

Pulang? Dua bola mata Kenzie bersinar cerah. Reyhan juga pasti akan menyuruhnya untuk ikut pulang. Kenzie tidak ingin arwah ayahnya tertinggal di kota C, ayahnya bisa merasa kesepian.

"Baiklah, kek." Reyhan juga tidak suka dengan Chicago, di Chicago ada banyak orang yang tidak ingin ia temui.

"Reyhan, kamu harus memikirkan masalah Nayra, dia sudah dewasa, seharusnya ia mencari pasangan untuk menikah." Kakek Reyhan menegaskan.

Ia sudah tak bisa lagi mengandalkan anaknya, sekarang ia hanya bisa menaruh harapan kepada cucu-cucunya. Cucu laki-lakinya sudah memberikannya keturunan yang luar biasa, sekarang hanya tinggal mengkhawatirkan cucu perempuan ini.

"Kakek, sekalian bawa perawat itu pulang, aku takut anakku tidak terbiasa saat kita kembali ke kota C." Reyhan ingin membawa Ken bersamanya.

"Ken akan tinggal disini menemaniku. Kamu saja tidak memiliki wanita yang pasti di sisimu, jika Ken bersamamu, bagaimana nasibnya nanti?" Kakek Reyhan pun menatap serius ke arah Kenzie.

Kenzie tidak menyebalkan, sayangnya Kenzie tidak menyukai Reyhan.

"Kakek!"

"Kakek Reyhan!" Reyhan dan Kenzie membuka mulut bersama. Kenzie juga tidak rela meninggalkan Ken, meskipun Ken bukan anak kandungnya, tetapi kalau harus meninggalkannya, hatinya terasa sangat sakit.

"Maka dari itu, cepatlah menikah, berikan Ken seorang ibu!" Kakek Reyhan menatap Reyhan serta Kenzie sekaligus memberi mereka saran.

Kenzie menundukkan kepalanya, ia bukannya tidak mengerti maksud Kakek Reyhan, hanya saja permintaan ini tak bisa ia penuhi.

Sudah larut malam, besok sudah waktunya untuk pulang. Kenzie duduk di sebelah kasur Ken, melihat wajah kecilnya yang tertidur nyenyak.

Bulu mata bayi itu sudah semakin panjang, seperti deretan bulu-bulu kecil yang halus.

Entah sedang bermimpi apa, bayi itu tiba-tiba tersenyum, benar-benar manis. Kenzie mengusap rambut Ken dengan halus, hatinya sangat tidak rela berpisah dengan Ken.

"Kelihatannya kamu sangat menyukainya, lebih baik kita berdua juga punya satu." suara Reyhan terdengar di belakangnya.

Kenzie merasakan hatinya pedih, tiba-tiba ia teringat anak perempuannya, air mata langsung mengalir di wajahnya.

"Kenapa menangis lagi?" Reyhan duduk di sebelah Kenzie dan memeluknya: "Orang bilang, ada banyak sekali dimensi di dunia ini, dan setiap dimensi memiliki bumi-nya sendiri, bila mereka datang di bumi ini dan menyadari dirinya tidak menyukai tempat ini, mereka akan pergi, mencoba memulai dunia yang baru, di tempat yang lainnya. Jadi, anak perempuanmu yang meninggal itu, tidak ada hubungannya dengan nasibmu atau takdirmu. Ia sekarang sudah menemukan dunia yang membuatnya lebih nyaman, kamu seharusnya senang karena itu."

Berkat suara Reyhan yang lembut, dan dagunya yang bersih menempel di atas kepala Kenzie saat menenangkannya, pedih hati Kenzie sepertinya berkurang. Ia mengangkat kepalanya dan mencoba tersenyum kepada Reyhan.