Bab 150 Marah

Sesampai di kantor, baru saja Kenzie bekerja sebentar, jam pulang kerja tiba.

"Tante Kenzie, hari ini orang-orang departemen kita akan makan malam bersama, tadi sore kamu tidak ada di kantor, jadi aku lupa memberitahumu." Asisten Departemen Nirmala datang. "Di dekat sini, di tempat bernama The Silent Devil, kita makan dulu baru pergi karoke.”

"Nirmala, tolong beritahu Direktur Gunadi, aku tidak ikut."

Kenzie merasa tertekan, sore tadi ia harus berurusan dengan Reyhan, sedangkan kerjaan masih banyak yang belum dikerjakan, malam ini ia harus lembur.

Nirmalan sedikit ragu. "Baiklah, nanti akan kusampaikan ke Direktur Gunadi."

Tak berapa lama Nirmalan pergi, ia mendapat telepon dan Gunadi.

"Kenzie,kenapa kamu tidak ikut acara kumpul bersama ?" Kenzie jadi bingung, bukannya hanya sedekar makan dan karaoke, kenapa menjadi acara bersama saja...

Kenzie baru akan bicara, Gunadi berkata lagi, "Kamu adalah karyawan baru, lebih baik kamu ikut acara seperti ini, agar lebih cepat mengenal teman kerja lainnya."

Gunadi terdiam sejenak lal melanjutkan, "Dan juga, aku sangat berharap kamu bisa datang."

Kalimat terakhir itu, dikatakannya suara kecil dan cepat, Kenzie tidak bisa mengenarnya dengan jelas, hanya saja mendengar kata-kata Gunadi yang pertama, ia merasa itu cukup masuk akal , jadi dia mengiyakannya. "Baik, kalau begitu aku akan segera berberes dan langsung pergi."

Jarak dariCavern Co. ke The Silent Devil tidak jauh, Kenzie dan teman kerjanya bercengkrama sepanjang jalan. Nirmala sudah memesan dua ruangan besar dan makanan prasmanan, setelah itu mereka pergi karoke

Kenzie tinggal di luar negeri selama 5 tahun, ia sudah tidak terlalu bisa menyanyikan lagu populer dalam negeri, jadi ia hanya minum sambil mendengarkan orang lain bernyanyi.

"Kenzie, kenapa kamu tidak bernyanyi?" Gunadi menghampirinya, duduk disampingnya.

"Eh, aku tidak terlalu bisa bernyanyi. Nyanyiian Direktur tadi, bagus sekali!" Kata Kenzie, baru saja Gunadi menyanyikan lagu cinta dengan sangat mendalaminya, semua orang yang mendengarkan memberikan tepuk tangan yang meriah.

"Oh ya?" Mata Gunadi tersenyum.

Kenzie merasa sedikit gugup, maksud tatapan mata Gunadi terlalu jelas, dia juga bukan orang bodoh, dia juga dapat merasakannya.

Ia tidak berani menatap Gunadi, dia tersenyum sambil menganggukan kepala, tanpa sadar pipinya terasa sedikit panas.

Wajah Kenzie cantik, pipinya sedikit merah, bulu matanya tebal dan panjang, terlihat sangat menawan, Gunadi yang disampingnya terus menatapnya, Rasa cinta yang terpancar dari matanya jadi semakin bertambah.

Setelah selesai karaoke, jam menunjukan pukul 11 lebih, dan semuanya bubar untuk pulang.