Contracted Marriage 30 Days

Bab 184 Hari Yang Khusus

Bab 184 Hari Yang Khusus

Yan Wan tidak tahu bagaimana dia keluar dari rumah itu.

Dia terus berjalan selangkah demi selangkah ke depan dan apa yang ada di depannya itu semua terasa begitu gelap.

Dia sangat bingung dan dia beneran tidak tahu harus pergi ke mana.

Benar, sekarang dia nggak ada rumah dan dia nggak ada tempat untuk pulang.

Dia kembali menjadi anak yatim piatu yang terlantar.

"Piak ...."

Tiba-tiba hujan pun turun. Butiran air hujan yang besar itu pun terasa sakit di atas tubuhnya.

Hujan badai pun turun.

Yan Wan berdiri di depan pintu dan mengusap wajahnya yang basah. Dia nggak bisa bedain apakah itu air hujan atau air matanya.

Yan Wan mengangkat kepalanya dan melihat ke atas langit.

Dia benar-benar sial. Baru saja diusir dari rumah, sekarang sepertinya Tuhan juga sedang menindasnya dan membuatnya basah kuyup.

Yan Wan merasa sangat sedih. Dia terus berjalan di bawah hujan yang deras itu. Lagian, sekarang nggak ada orang yang menginginkannya lagi. Kalau dia sakit pun juga nggak akan ada orang yang sedih lagi.

Pada saat itu, tiba-tiba ada sebuah payung hitam di atas kepalanya yang melindunginya dari air hujan.

Tangan orang yang memegang payung itu terlihat begitu indah. Ternyata orang itu adalah Huo Lichen, pria tampan yang selalu membuat orang terpesona. Huo Lichen melihatnya dengan tatapan dalam yang penuh dengan kekhawatiran.

"Mau lagi sedih juga tetap nggak boleh kehujanan."

Suaranya terdengar sangat rendah dan dingin.

Ketika berbicara, Huo Lichen mengulurkan tangannya dan langsung merangkul pundak Yan Wan dan memeluknya.

Tubuh Huo Lichen yang tegap itu seperti sebuah benteng yang menghalanginya dari air hujan.

Yan Wan pun terbengong dan melihat ke arahnya. Tubuhnya itu mulai merasakan kehangatan dari tubuh Huo Lichen dan hatinya yang tadinya dingin itu pun mulai merasa hangat.

"Kenapa kamu ada di sini?"

Huo Lichen memeluknya sambil berjalan ke depan dan berkata, "Dari tadi aku nggak pergi."

Dari tadi Huo Lichen tungguin dia di depan.

Jadi waktu Yan Wan keluar tadi dia tidak melihatnya. Ditambah lagi dengan suasana

Dia benar-benar

di dalam rumah, bisa jadi Huo

tahu

Wan merasa rasa sakit di hatinya

kepalanya dan air matanya itu pun mulai menetes keluar dari matanya. Setelah itu dia mengulurkan

"Aku mau jalan sendirian."

Yan Wan yang hendak mendorongnya, Huo Lichen pun sengaja merangkulnya lebih erat

terus melangkah dengan cepat dan membawanya ke arah

berkata, "Ikut

Rumah?

rumah ini seperti sebuah jarum yang menusuk ke hati Yan Wan.

nggak perlu belas kasihan darimu. Sekarang aku nggak punya

baru diusir, dia nggak ada orang tua

lagi di dunia ini. Nggak ada

dunia ini, tiba-tiba meninggal, juga nggak akan ada orang yang

bilang kamu

Lichen pun bertanya dan melihatnya dengan tatapan

Wan, kamu dengar baik-baik. Mulai hari

pun langsung tercengang

ini dan dia hanya mendengar suara Huo

mulai sekarang, rumahnya itu

kekhawatiran itu pun seolah langsung terjatuh

Wan melihat ke arahnya dengan pandangan terharu

bukan ucapan terima

nada rendah lalu membawanya ke

ini Yan Wan tidak melawannya

Lichen yang memberinya tumpaan di saat seperti ini adalah

Wan sangat berterima kasih

di rumah Huo Lichen. Anggap saja dia tinggal lebih

pasti bisa pergi dan mencari

....

rumah Huo Lichen ada semua barang keperluan Yan Wan. Selain dia sekarang nggak

kenapa dia merasa sepertinya ada begitu banyak hal

juga masih berbunyi di

tidak membuka matanya dan berusaha untuk meraba ponselnya dan mematikan

dia merasa dirinya

rasakan, sepertinya ini

terkejut dan langsung membuka matanya. Ternyata dia beneran melihat Huo

Wan bingung, kenapa hari ini Huo Lichen masih belum bangun? Biasanya

Yan Wan yang tercengang, Huo Lichen pun

Bình Luận ()

0/255