Crazy Fall For You

Bab 68 Jatuh di tangan wanita

Bab 68 Jatuh di tangan wanita

Jonathan memandang Elena dengan sangat cemas, selain muntah tadi, tak ada hal yang abnormal lagi dari dirinya. Ia tidak menangis maupun merengek, hanya tertawa dingin, raut wajahnya yang dingin begitu menakutkan.

"Elena, kau tinggal di mana? Biar aku mengantarmu!"

Elena mendongak, memperhatikan Jonathan dengan serius, agak lama kemudian, ia tersenyum tipis, "Terima kasih, Kak Jo!"

"Haha, Elena, jangan berbicara seperti itu padaku, kau tahu kalau hatiku..."

Elena menutup bibir Jonathan dengan jarinya, "Kak Jo, semoga kau bahagia."

Elena tak perlu lagi mendengarnya mengatakan cinta, ia sudah memiliki tunangan, ia punya dunianya.

Sementara dirinya sendiri, hanya perlu bertahan menyelesaikan jalannya sendiri.

"Kak Jo, kau tak perlu mengantarku, aku bisa naik taksi sendiri. Pria itu sangat cemburuan, kalau kau terlihat olehnya, kami bisa bertengkar lagi..." ujar Elena sambil mendesah.

Ia berbalik hendak memanggil taksi, saat berbalik itulah, ia tiba-tiba melihat senyum Jonathan yang mempesona, "Kak Jo, selamanya tak akan ada orang yang bisa menggantikan posisimu di hatiku." ujar Elena dengan suara merdu.

Dia pergi dan menutup pintu mobil dengan pelan.

Sekarang pikirannya sangat kacau. Damian, si bajingan itu, dia tak akan melepaskannya.

Seusai mengikuti pameran busana, Damian pun pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam.

Sosok bayangannya yang hitam besar masuk. Elena sedang menonton televisi di atas sofa.

Kalau dilihat dengan teliti, pandangan Elena tidaklah fokus. Apapun acara yang disiarkan televisi, ia sama sekali tak tahu.

Mendengar langkah kaki Damian, dia pun melompat gembira.

Dia mengalungkan kedua tangannya di leher Damian.

"Kau sudah pulang!"

Damian mengangkat kedua alisnya, "Tumben baik sekali, apa kau melakukan sesuatu yang membuatmu merasa bersalah?"

Elena membantu Damian melepaskan jasnya dengan mesra, lalu meletakkannya di dalam lemari. Ia menggandeng tangannya dan duduk di sofa.

"Hmm, aku menyesal, hari ini tak dapat menemanimu sampai selesai. Hatiku menyesal, jadi aku mau menebusnya!"

Tawa Elena begitu palsu, rasanya bagai berdiri di atas kapas, tak ada rasa sama sekali.

Hanya ada sebuah kesadaran yang memperingatkannya di kepala, dia harus sadar, dia harus tenang, jangan sampai kebohongannya terkuak.

Damian sudah terlalu lelah, dia sama sekali tak menyadari ketidakwajaran dalam diri Elena. Melihatnya semanis ini, ada perasaan lega di hatinya.

"Baiklah, karena kau sudah tahu kesalahanmu, mengapa tak segera menebusnya?"

kue

dengan tenang ke arah dapur, lalu kembali dengan membawa sebuah kue yang masih panas, aroma mentega menguak di seluruh

menikmati perlakuan yang hangat ini, nafsu makannya meningkat, dia mengambil sepotong kue dan

melahap sepotong demi sepotong

Matanya menyinarkan kegembiraan.

kue, lalu tak memakannya lagi, "Tadi aku sudah makan nasi, kenyang sekali, aku akan

kekecewaan lalu dia kembali ke dapur untuk mengambil segelas

ini! Setelah itu kita kembali ke

dan

menggendong Elena dan langsung

depan pintu kamar, Damian menciumnya

buru-buru..." kata Elena

karpet, dia menciumnya lembut sambil melepaskan

terasa kaku, ada apa

mendongak dan mengerjapkan matanya, wajah

suara Elena

terjatuh, "Mengantuk

lama kemudian,

pintu

dinding kedap suara yang bagus

telah mengerahkan semua tenaganya, tetap saja tak dapat

mengikat kaki dan tangan Damian, lalu

disiramkan ke wajah Damian, dia pun tersadar dan membuka

obat tidur yang diberikan Elena tidak besar, dia takut ketahuan, jadi dia meneteskannya ke 6 potong kue secara terpisah,

dingin sudah

memalukan, bisa-bisanya ia--secara

Sudah jelas, dia bukan orang yang pandai melakukan

"Elena, nyalimu

dia

kalau memang aku salah telah merawat orang yang tak tahu terima kasih, tetap saja tak kusangka kau berani

terpikirkan oleh Damian dirinya akan

itu adalah wanita yang sangat

bisakah lebih

tetap memberontak ke sana kemari, bahkan ranjang

terkejut, dia terlonjak mundur. Hanya dengan melihat mata hitam Damian

pria ini begitu kuat, dia takut padanya, takut sekali, dari hatinya yang terdalam dia sangat

lamunkan, cepat lepaskan

membuat

Jangan menyerah, orang di hadapanmu ini, adalah iblis pembunuh yang

tragis paman dan

tidak boleh takut. Ia harus membalaskan dendam kakak, pamannya

atas meja

dan meronta, namun dia tak bisa

Tali yang mengikatnya seperti

Bình Luận ()

0/255