Bab 822

Fidelya Gu masih tenggelam dalam kejadian Claudia Lin tadi.

Ray tersenyum membantu Fidelya menjawab, " Tentu donk, Fidelya sangat pengertian, bukan?"

Fidelya yang mendengarnya, dia juga terpaksa merendahkan suaranya berkata: " Halo, Tante Zuo!"

Senyuman mama Theo Zuo terlihat semakin buruk, dia dengan ramah mengajak Ray mereka masuk untuk makan bersama: " Karena sudah datang, kita juga satu keluarga, mau makan bersama saja?"

Ray melihat Fidelya yang dalam hati sangat menolak, jadi dia tersenyum dan berkata: " Aku sudah memesan ruangan juga, jadi gak mengganggu tante kalian lagi, kami pergi dulu ya."

Fidelya dengan tidak rela mengangguk ke mama Theo Zuo, lalu dengan tatapan tajam melihat ke Theo Zuo yang berdiri di depan pintu, dia menghela nafas panjang, lalu mengikuti paman pergi.

Ketika masuk ke ruangan yang sudah di pesan, Ray melihat Fidelya yang sedang kesal, lalu berkata: " Sudah, Fidelya, kamau mau makan apa? Boleh marah, tapi jangan membuat sayang aku lapar donk."

Fidelya dengan tatapan rumit melihat ke Ray, dan tidak bersuara.

Ray tertegun, lalu dengan dia mencoba merangkul Fidelya, tapi ternyata ditolak olehnya.

Merasa ada yang salah, Fidelya lalu berkata: " Aku lapar, mau makan!"

Ray tidak berbicara, dia hanya memberikan menunya ke Fidelya.

Fidelya menundukkan kepalanya dan mulai melihat menunya, dalam satu waktu, ruangan ini terasa sangat sunyi, orang yang lewat bisa mengira kalau tidak ada orang di dalamnya.

Ketika pelayan membawakan semua sayurnya, Fidelya mulai makan sambil menundukkan kepalanya, dia tidak melihat ke paman sama sekali.

Ray jadi tidak ada nafsu, setelah makan beberapa suap, dia lalu meletakkan sumpitnya, dan diam duduk di sana menunggu Fidelya.

Bình Luận ()

0/255