Bab 868

Setelah selesai kelas, Claudia duduk dan menenangkan Fidelya:" Jangan seperti ini! Orang-orang itu berbuat demikian karena iri padamu!"

Fidelya memberikan senyum terpaksa, menghela napas kemudian berkata:" Aku hanya merasa aneh, kenapa hal-hal seperti ini selalu terjaddi kepada ku! Ada kalanya aku merasa sangat pusing, aku tidak melakukan apapun namun malah dimarahi!"

Claudia yang berempati kepadanya:" Sudah, ayo pergi, kita beli milk tea!"

Fidelya menggelengkan kepala:" Tidak! Aku ingin ke asrama untuk mengambil sesuatu! Kamu pergi saja duluan!"

Dia melambaikan tangan kepada Claudia , kemudian berjalan ke aras asrama.

Claudia yang masih berdiri ditempat melihat Fidelya yang berjalan pergi bergumam:" Setiap orang memiliki masalahnya masing-masing!"

Ketika sampai di asrama, Fidelya tidak mendapati seorang pun di dalamnya.

Dia duduk dikursinya, dia kembali memikirkan berita yang ditulis, hatinya merasa sedih:" Aku tidak menyakiti siapa pun, kenapa orang-orang ini tidak mau melepaskan ku? Apakah mereka semua memaksa ku untuk meninggalkan Ray baru bisa melepaskan ku?"

Setiap dia teringat Ray, tatapannya berubah, Ray addalah satu-satunya orang yang paling hangat dan yang tidak pernah meninggalkannya, tidak dapat ddibayangkan jika kehangatan tersebut tidak dapat lagi dia rasakan, dia tidak dapat menahan tangisnya.

Bình Luận ()

0/255