Mister Long, Don't Be Arrogant

Bab 96 Apakah Harus Ada Alasan Dalam Mencinta?

Bab 96 Apakah Harus Ada Alasan Dalam Mencinta?

Mo Rufei menunggu satu kesempatan terakhir untuk mendengar jawaban Long Xiao.

Long Xiao melirik Mo Rufei dengan acuh tak acuh, tidak ada emosi di antara kedua matanya, jadi tidak ada yang bisa mengetahui kegembiraannya.

Tapi kesinisan yang berada dalam pandanganya kini sudah siap untuk dia lontarkan.

"Benar."

Jawaban yang begitu terus terang, kata tersebut terdengar polos tanpa emosi terkandung di dalamnya, ketegasan Long Xiao membuat wajah Mo Rufei berubah.

Ternyata benar, Long Xiao tidak mengharapkan Mo Rufei, melainkan anak dalam kandungannya saja.

Rasa panas dalam mata Mo Rufei kini berubah menjadi air mata yang jatuh bergulir melewati pipinya, wajah cantik wanita itu kini memerah karena merasa sakit hati, dia menggertakkan gigi keras-keras sambil berkata. "Jadi, kamu menyuruhku tinggal di sini, itu karena kamu hanya peduli pada anak ini?"

Mo Rufei menutup mata, air mata jatuh bergulir di wajahnya yang pucat, eyelinernya sekarang luntur sudah.

Long Xiao tidak terlihat kaget, dan dia juga tidak buru-buru memberikan jawaban, saat Mo Rufei kembali membuka matanya, barulah Long Xiao melontarkan pertanyaan. "Kamu pikir, aku sangat memedulikan anak itu?"

Nada bicara Tuan Muda Xiao sangat dingin, sama sekali tidak seperti berbicara pada wanita yang sedang mengandung anaknya.

Punggung Mo Rufei menegang, jari-jarinya yang halus kini dia kepalkan erat-erat. "Kak Xiao......apa maksudmu?"

Long Xiao membanting sebuah dokumen ke lantai, membuat Mo Rufei terperanjat kaget.

"Apa maksudnya ini? Kamu pikir aku tidak tahu berapa lama kita bersama?"

Wajah dingin Long Xiao menggambarkan ketampanan dan kekejaman yang tajam seperti es, mata yang penuh dengan rahasia kelam itu kini menghujam dada Mo Rufei.

Mo Rufei tiba-tiba menangis lebih keras, pundaknya bergetar naik turun akibat sesenggukan. "Kak Xiao, apa maksudnya ini? Kamu tidak curiga bahwa anak ini bukan anakmu,’kan?"

Long Xiao mengerutkan alis ketika mendapati Mo Rufei menangis hebat.

"Anakku atau bukan, kamu yang tahu lebih jelas. Kenapa tanya padaku?" Ucapnya dingin.

Mo Rufei menangis lebih keras lagi. "Kak Xiao, kamu tidak boleh seperti ini, kenapa kamu mencurigai aku? Anak ini sudah pasti milikmu, sebenarnya aku selalu ingin memberitahumu hal ini, waktu itu ketika kamu mabuk, kamu salah mengira aku adalah Chu Luohan dan kamu terus memanggil namanya ketika kita melakukannya."

Alis Long Xiao berkerut dalam!

"Kakak Xiao......bagaimana aku bisa menjelaskannya padamu soal ini? Kamu terus memanggilku dengan namanya! Tapi anak ini memang milikmu, kamu memintanya berkali-kali malam itu, lalu......"

Long Xiao mengepalkan tinjunya. "Lalu apa?"

Urat-urat nadi biru bermunculan di punggung tangan Long Xiao.

"Lalu......aku benar-benar tidak tahan lagi dan akhirnya pingsan, ketika aku bangun, kamu ternyata masih tidur, aku meninggalkan hotel karena mendapat pemberitahuan darurat. Kamu......sama sekali tidak ingat?"

Mabuk? Hotel? Melakukannya berkali-kali dalam semalam?

Kenapa Long Xiao tidak terkesan sama sekali? Dia hanya ingat bahwa Mo Rufei membuat banyak panggilan pada suatu malam dan meminta Long Xiao untuk menemaninya sebentar, tapi Long Xiao tidak minum terlalu banyak, jadi dia tidak mungkin mabuk sampai tak sadarkan diri, bukan?

"Kak Xiao, meskipun......meskipun anak ini bukan milikmu, tapi dulu, lima tahun yang lalu aku juga......aku juga pernah menyelamatkanmu, kenapa kamu berbuat seperti ini padaku?"

Dia benar-benar berani menyebutkan kejadian lima tahun lalu, dia sedang mencari mati!

"Mo Rufei! Apa kamu tahu apa yang kamu bicarakan?!" Tuan Muda Xiao tiba-tiba merendahkan suaranya sambil menggeram.