Mister Long, Don't Be Arrogant

Bab 149 Adik Ipar Yang Berubah Menjadi Ramah

Bab 149 Adik Ipar Yang Berubah Menjadi Ramah

Hujan musim panas tiba-tiba turun dengan deras tanpa peringatan.

Chu Luohan berjalan di tengah jalan dengan putus asa. Air hujan mengguyurnya dengan deras dan akhirnya menghapus bersih kekacauan dalam pikirannya.

Dia tidak terburu-buru berteduh dari air hujan. Dia hanya menengadahkan kepalanya dan membiarkan hujan membasuh kepalanya dengan sengit. Dia sudah tidak menginginkan waktu hidup yang tersisa, mati dengan cara apa pun juga tak apa.

Lampu sebuah mobil yang bersinar dari jauh mendekat. Cahaya yang datang membuat penglihatannya di depannya menjadi terang dan silau. Cahaya yang tiba-tiba itu membuatnya pusing dan Chu Luohan secara refleks memblokirnya dengan tangannya.

Mobil itu tiba-tiba berhenti mendadak di sebelahnya.

Jendela mobil itu turun perlahan-lahan dan sebuah kepala nongol dari dalam, "Kakak ipar! Kenapa kamu ada di sini?! Tadi aku pergi ke rumah sakit untuk mencarimu, tapi kamu tidak ada di sana. Bagaimana kamu bisa ada di sini?"

Dia pergi ke rumah sakit untuk mencarinya di tengah malam? Apakah Long Ze juga sudah gila?

Pakaian Chu Luohan telah basah kuyup karena hujan lebat. Bahan pakaian yang tipis itu menempel pada tubuhnya dan mengekspos lekukan tubuhnya dengan jelas. Dia pun terburu-buru menutupi tubuhnya dengan lengannya. Chu Luohan bertanya dengan nada dingin, "Untuk apa kamu mencariku?"

Saat Long Ze melihat penampilannya, ia menduga pasti karena sesuatu telah terjadi. Terlepas dari konsekuensi apapun, pria itu pun turun dari mobil dan mendorong wanita itu ke kursi mobil belakang. "Kakak ipar, masuk dulu ke dalam mobil. Masalah yang ada kita bicarakan nanti."

Begitu Chu Luohan masuk ke dalam mobil, jok langsung basah dengan air di tubuhnya. Tapi hal yang paling gawat yaitu Long Ze adalah adik iparnya!

Tapi Long Ze tidak peduli sama sekali. Kakak iparnya sedang dalam masalah dan dia harus membantunya, "Kakak ipar, apakah kamu sedang kesal dengan kakak? Itu hal yang wajar. Kalau aku di posisimu, aku juga akan marah. Kakakku mengurus masalah ini dengan berantakan! Aku akan mewakilimu melampiaskan amarah!"

Chu Luohan memeluk dirinya sendiri. Ekspresi di wajahnya datar dan matanya juga terlihat hampa, "Dia adalah kakak kandungmu."

"Terus memangnya kenapa kalau dia kakakku? Siapa suruh dia membuatmu marah? Kakak ipar, aku akan mengantarmu ke villa dulu untuk mengganti bajumu. Kamu akan jatuh sakit kalau bajumu basah."

Long Ze menoleh dan melihatnya dengan tidak serius, "Kakak ipar, kenapa tubuhmu penuh dengan darah? Tidak boleh seperti ini. Aku harus mengantarmu ke rumah sakit! Ini sangat berbahaya bagimu!"

Rumah sakit?

"Tidak! Aku tidak mau pergi ke rumah sakit!"

Long Ze hendak memutar setir mobil dan putar balik di depan, akan tetapi Chu Luohan sangat keras kepala. Dia bersikeras setengah mati dan tidak mau pergi ke rumah sakit.

"Kalau begitu harus bagaimana? Lukamu harus diperban. Kalau tidak, pasti akan bertambah parah! Kakak ipar, kamu sudah dewasa. Jadi terlalu keras kepala oke?!"

Dia sudah tidak bisa memahami dunia mereka lagi. Kenapa segala sesuatu harus dibuat begitu rumit?

Dengan kondisi Chu Luohan sekarang ini, dia tidak bisa pergi ke dokter begitu saja. Kalau dia tidak hati-hati…

"Kamu antar aku ke suatu tempat."

"Baiklah!"

Melihat penampilan Chu Luohan, Long Ze melepas jaketnya dan menyerahkannya ke Chu Luohan yang duduk belakang, "Kakak ipar, pakailah ini."

Meskipun dia tidak menunjukkannya dengan jelas, tapi perhatian Long Ze membuat Chu Luohan terkejut.

"Kenapa kamu mencariku tengah malam?" Chu Luohan merasakan sakit yang menusuk di dadanya akibat gigitan Long Xiao.

Long Ze mengerutkan bibirnya dan membalas, "Saat ini, rumor di luar sana sudah heboh sampai mau meledak. Aku takut kalau aku tidak pergi mencari kakak ipar malam ini, kakak ipar pasti akan marah besok. Kalau begitu, aku pasti sudah tidak bisa bertemu denganmu lagi."

Chu Luohan tersenyum, "Apa yang sudah terjadi?"

Long Ze kesulitan untuk angkat bicara. Jadi dia hanya memberikan ponselnya kepadanya, "Kamu lihat saja sendiri."