Mister Long, Don't Be Arrogant

Bab 168 Luohan, Kau Tetap Istriku

Bab 168 Luohan, Kau Tetap Istriku

Mereka berdua mencari di tebing sampai sore tapi selain baju dan sepatu, tidak ditemukan apa-apa lagi.

Kenapa bisa tidak bisa ditemukan?

Di bawah tebing ada sebuah air terjun yang menggantung, keduanya tercengang.

Air terjun berada di tepi dataran yang luas, aliran airnya sangat deras dan aliran airnya pasti lebih besar karena hujan badai!

Jangan-jangan...

Gelisah, dewa kematian seolah-olah menahan napas mereka. Sinar matahari terbenam dari atas lembah membentangkan dua sosok yang berdiri kaku, keduanya menatap air terjun dengan tatapan kosong, tidak ada yang berbicara.

Jika orangnya jatuh terbawa arus ke laut, maka... sungguh tidak bisa mencarinya lagi.

Hembusan angin mengacak rambut, pakaian kering dibasahi keringat entah berapa kali, diam, sunyi, kematian dan kegelapan seperti kiamat.

Hari segera cerah setelah hujan lebat di Afrika, cuacanya pengap dan tak tertahankan tapi jari tangan mereka berdua terasa dingin, seluruh tubuh mereka seperti dibekukan oleh es.

Long Ze memeluk potongan baju dan sepatu Chu Luohan, Tang Jinyan memegang kunci itu dengan erat.

Long Ze bicara dan matanya terasa perih, air matanya jatuh, dia membalik tubuhnya dan menyekanya, "Sial! Aku tidak percaya!"

Tang Jinyan sedih seperti putus asa sambil memejamkan matanya dan meletakkan kunci di dadanya, "Aku tidak percaya, tuan muda kedua Long, aku lebih tidak bersedia percaya dibandingkan dirimu."

Air mata Long Ze tidak ada habisnya dan tidak habis diseka, sakit seperti tidak bisa berdiri dan dia berjongkok sambil merasakan hatinya yang sakit, "Mengapa! Mengapa! Ah!!!!"

Tang Jinyan meneteskan air mata dengan diam, air mata yang perih setetes demi setetes membawa pergi kehangatan tubuhnya, seluruh tubuhnya dingin, lututnya tidak bertenaga dan akhirnya dia tidak bisa menahannya dan salah satu lututnya berjongkok di batu tebing.

Dia menunduk dan tetesan air yang besar jatuh di atas batu yang menimbulkan gema yang mengejutkan, satu tetes demi satu tetes dan tidak berhenti untuk waktu yang lama.

Jika benar-benar terjadi sesuatu kepada Chu Luohan maka dia bersedia berada di sini menemaninya sampai mati.

Mereka berdua mencari sampai matahari terbenam, hari sudah gelap dan tidak bisa melihat apa-apa lagi, bintang menutupi langit biru tua memancarkan cahaya yang samar, lemah seperti ditiup angin.

"Mari naik, sekarang sudah dipastikan dia jatuh ke bawah maka perlu menambah orang untuk mencarinya, kekuatan kita berdua terlalu lemah, selain itu kita tidak bisa melihat di bawah air terjun."

Menggunakan akal sehat terakhir, Tang Jinyan memapah Long Ze yang berlutut di tanah, "Sekarang bukan waktunya menangis, bangun!"

Long Ze menggunakan semua tenaga untuk melepaskan tangannya, "Apakah aku tidak bisa bersedih!"

Mereka berdua naik ke atas dan melaporkan kondisi yang ditemui di bawah dan meminta untuk mendiskusinya bersama Long Xiao.

Ji Dongming menghentikan mereka berdua, "Tidak peduli masalah sebesar apa, tidak boleh memberitahukannya kepada bos, luka di dadanya terbuka dan kapan saja bisa membahayakan nyawanya, Jingdu sudah menambah dokter kemari, sebelum kondisinya stabil, dia tidak bisa menerima pukulan lagi!"

Long Ze membuka kedua telapak tangannya kemudian menarik rambutnya, dia berputar dengan marah di tempat, "Sial! Pasangan suami istri ini benar-benar hancur!"

Ji Dongming melihat Tang Jinyan, dia pertama kali mendekatinya, "Tuan Tang, aku akan membantu sekuat tenaga tentang hal istri tuan muda. Tim SAR juga akan berkumpul, orang-orang di kedutaan Kenya telah mengerahkan seluruh pasukan dan akan segera melakukan pencarian, kamu bisa menyebutkan persyaratan khusus."

Tang Jinyan mengangguk, dia menarik napas dalam-dalam, dia menggunakan seluruh kesabaran dan ketahanan terbesar dalam hidupnya untuk menghadapi semua ini, meskipun tidak mau mengakuinya, tapi keberadaan Chu Luohan...

"Apakah kakakku sudah bangun?" Long Ze meneteskan air mata, kedua matanya bengkak, wajahnya terlihat belasan luka gores ranting dan rumput liar.

"Belum." Dua kata yang lemah, Ji Dongming mengatakannya dengan pelan tapi sangat sedih.

Mulut Long Ze terlihat berbentuk garis lurus, "Brengsek!"

Dia menendang batu yang ada di bawah dengan kencang, Long Ze marah, emosinya meledak tapi semua ini tidak bisa menutupi hatinya yang sakit!