Mister Long, Don't Be Arrogant

Bab 172 Tuan, Kau Harus Ganti Dengan Satu Kali Makan

Bab 172 Tuan, Kau Harus Ganti Dengan Satu Kali Makan

Dasar!

Perjalanan Anna ke China karena kemacetan dan kecelakaan mobil, permulaan yang sangat berbeda dari yang dia harapkan.

Tidak suka, jijik dan pusing.

Dia merasa agak menyesal dan ingin segera terbang kembali ke New York.

Suasana hati Anna sangat buruk sambil mengambil koper yang tertabrak. Masyarakat yang diatur hukum, tidak masalah jika sombong dan arogan bahkan tidak ada perasaan sama sekali.

Tidak masalah tidak minta maaf bahkan juga tidak mengambilkan koper yang jatuh tertabrak?

Tidak tahu siapa pemilik mobilnya, tapi dia melihat plat mobilnya, lebih baik lain kali dia tidak bertemu dengan mobil ini, jika tidak maka dia pasti akan membuat perhitungan dengannya.

Setelah tiba di hotel, ponsel Anna berdering.

Melihat sederet bahasa Inggris di layar, Anna mengerutkan keningnya dan mengangkatnya setelah ragu beberapa saat.

Suara rendah dan serak yang dipisahkan daratan dan samudera tapi sangat hangat seperti ada di samping, pemilik suara ini adalah tunangannya.

"Apakah sudah tiba di China?"

Anna meletakkan ponsel di pundaknya, membuka tirai, di dalam kamar presiden suite yang ada di lantas paling atas bisa melihat setengah bagian kecil pemandangan kota, setelah berdiri tinggi maka akan menemukan jika banyak kota akan terlihat mirip.

"Sudah."

Dia membuka koper, dia mengeluarkan pakaian ketat dan baju tidur, dia harus mandi dulu untuk mencuci kesialan.

"Pertama kali ke China, bagaimana perasaanmu? Suka tidak?"

Pertanyaan yang begitu sederhana dan murah hati, apakah dia tidak tahu mengapa dia terbang di atas Samudera Pasifik dari New York, dari timur ke barat?

Atau Daddy tidak memberitahunya?

"Perasaannya... tidak seperti yang kubayangkan, bukan juga tidak suka, aku akan pulang setelah acaranya selesai dan tinggal di sini beberapa hari, tidak akan lama."

Sejujurnya, sangat tidak suka tapi dia tidak ingin dia mengetahui pikiran aslinya.

"Beri tahu aku sebelum pulang, aku akan mengaturnya untukmu."

"Tidak perlu, aku bisa sendiri."

Dia langsung menolaknya, seolah-olah dia lupa siapa identitas pria itu baginya.

"Anna..." Pria menghela napas, "Aku adalah tunanganmu dan suamimu kelak, ada sesuatu yang harus aku lakukan, apakah kamu mengerti?"

"Maaf, aku menarik kata-kata tadi."

"Sudahlah, kamu sudah lelah, istirahat dulu... aku merindukanmu."

Pria itu tidak segera menutup teleponnya, seolah-olah sedang menunggu jawabannya tapi setelah menunggu beberapa saat, Anna tidak mengatakan apa-apa.

Teleponnya dimatikan.