Mister Long, Don't Be Arrogant

Bab 228 Long Xiao, Aku Merindukanmu

Bab 228 Long Xiao, Aku Merindukanmu

Istri?

Siapa yang tidak tahu kalau istri Long Xiao sudah meninggal di Afrika. Dia sekarang masih membicarakan istrinya?

Bercanda!

Mo Langkun ingin menarik kerah Long Xiao lagi. Tapi sebelum dia mengulurkan tangannya, Long Xiao sudah memegang pergelangan tangannya dan menatapnya tajam. Mo Langkun mengertakkan gigi dan membanting lengannya.

"Long Xiao, jika kamu ingin membatalkan pernikahan di tengah jalan, alasanmu ini terlalu dibuat-buat! Menyebut seorang wanita yang telah meninggal lebih dari dua tahun. Apa-apaan ini!"

Mo Langkun sangat marah sehingga dia tidak ragu untuk mengatakan apapun. Begitu dia berbicara tadi, semua orang tersentak. Mo Langkun berani berbicara pada Long Xiao seperti ini, sepertinya dia sudah bosan hidup!

Tuan Xiao melihat ke sekeliling aula yang megah dan melihat ratusan mata sedang menatapnya.

Tidak hanya tamu-tamu lain, bahkan Yuan Shufen dan Long Ting juga tersentak.

Long Xiao, trik apalagi yang dia mainkan?

Tuan Xiao membetulkan posisi dasinya dan kali ini dia memberi muka pada Mo Langkun, "Ketika aku bertunangan dengan Rufei, tentunya semua orang masih ingat seperti apa keadaannya."

Begitu diingatkan, ingatan semua orang telah kembali ke tempat kejadian saat itu.

Dalam sekejap aula itu menjadi sunyi senyap.

Mo Rufei sudah menangis sejak tadi. Dia menutupi mulutnya dan tidak berani menangis dengan suara keras. Segala sesuatu yang terjadi hari ini adalah bom tanpa batas waktu yang dia tanam dulu. Tetapi dia selalu membayangkan bom ini selamanya tidak akan pernah meledak.

Mata dingin Long Xiao sudah tidak memiliki keraguan lagi, "Pernikahanku dengan Rufei tidak didasarkan pada perasaan. Pembatalan ini adalah sikap tanggung jawab atas satu sama lain. Apalagi..."

Dia akhirnya menatap Mo Rufei yang sedang terisak dan matanya yang sembab. Hati Mo Rufei yang tidak berubah membuat Tuan Xiao sangat sakit kepala. Jika tidak diperjelas sedikit, takutnya Mo Rufei akan semakin salah.

"Seperti yang kalian semua sudah tahu, istriku meninggal dalam kecelakaan dua tahun lalu. Tapi itu tidak benar. Belum lama ini aku sudah menemukannya. Aku sudah menikah dan memiliki kekasih sendiri. Tentu saja tidak akan bisa menikah dengan siapa pun."

Long Ze menyesap seteguk alkohol.

Bisa terlihat cara Kakak menangani masalah ini sudah sangat sopan. Kakak bukanlah pria yang bisa mengalah dan sabar. Caranya berbicara anggun dan arogan, tapi tidak dangkal sedikit pun. Dia ternyata bisa begitu sabar menjelaskan banyak hal.

Bagi keluarga Mo, pembatalan pernikahan bisa dibilang sebuah penghiburan terbesar.

Gao Jingan juga berkata dengan suara keras, "Tidak disangka kakakmu juga ada waktunya bisa bersikap baik."

"Itu karena dia tidak ingin membuat keluarga pamanmu malu. Tapi pamanmu juga terlalu cuek. Sudah berapa kali dia dipermalukan hanya demi adik sepupumu bisa menikah dengan kakakku? Tapi masih saja mengulanginya."

"Jangan terus sebut pamanmu, pamanmu."

Long Ze mencibir, "Kenapa? Kamu juga merasa memalukan memiliki saudara seperti itu?"

Setelah selesai bicara, dia melanjutkan memegang ponsel untuk merekam video, "Sayang tidak ada reporter di acara yang ramai ini. Kakak laki-lakiku benar-benar terlalu baik terhadap keluarga pamanmu."