Mister Long, Don't Be Arrogant

Bab 231 Aku Memang Mendominasi, Kenapa?

Bab 231 Aku Memang Mendominasi, Kenapa?

Langit berwarna abu-abu bersiap-siap membuat hujan deras. Sepertinya tetesan hujan dapat kapan saja menembus awan dan jatuh ke bawah. Ada pesawat terbang yang datang dan pergi di atas bandara dan suara gemuruh terus menerus menenggelamkan suara orang-orang di sekitar.

Orang-orang yang menjemput ke bandara mungkin takut akan hujan deras dan mereka lengah. Orang-orang yang tidak membawa payung berlari ke toko yang ada di pinggir jalan, trotoar, dan kafe untuk berteduh. Tidak banyak kerumunan orang di alun-alun luas yang tersisa begitu awan gelap berkumpul dalam beberapa menit.

Rolls-Royce hitam itu diparkir di alun-alun yang jarang terlihat. Mobil-mobil di sekitarnya bergerak mundur karena takut tidak dapat mengganti rugi jika tidak sengaj menggoresnya. Dalam sekejap, dalam jarak 50 meter tidak ada mobil lain yang diparkir di sana.

Hujan tiba-tiba turun!

Hujan deras di akhir musim semi sepertinya menjadi salam perpisahan terakhir dengan musim ini. Tanpa pendahuluan air hujan mengguyur atap mobil, payung dan dengan cepat air hujan yang jernih dan bersih menggenang di jalan.

Long Xiao membuka pintu mobil lalu membuka payung hitam dengan satu tangan. Sepatu kulitnya yang mengkilat menginjak genangan air dan menutupi sol sepatu kulitnya. Beberapa tetesan air hujan membasahi bagian atasnya dan menggelincir dari kulit buaya yang hitam mengkilap.

Jemarinya yang ramping dan bersih memegangi pegangan payung. Pria tinggi dan jangkung itu berjalan beberapa langkah ke depan. Baju putih bersih dan celana panjang berwarna hitam membuatnya tampak lebih tinggi dan lebih bersih. Bahkan berdiri di tengah hujan pun tidak membuat penampilannya berkurang.

Hujan deras mengguyur permukaan payung, membuat suara rintikan hujan. Orang-orang di sekitar memegang payung dengan susah payah dan terkadang terdengar mereka mengeluh dan mengumpat. Hanya dia yang diam saja dan sepertinya dia terpisah dengan hujan deras ini.

Berada di ketinggian yang tidak bisa dicapai oleh siapa pun, benar-benar menakjubkan.

Anna berjalan keluar dari bandara dengan sebuah koper di tangannya. Dia terdesak ke dalam kerumunan dan beberapa kali terdorong oleh orang-orang yang berada dalam kerumunan. Akhirnya dengan susah payah dia berhasil sampai ke pintu keluar. Dia mendongak melihat ke langit dan hujan begitu deras. Tuan Muda Long yang sombong dan punya penyakit bersih tidak mungkin datang menjemputnya, kan?

Saat melangkah keluar dari terminal, di luar deretan jendela Prancis yang tinggi banyak payung warna-warni yang menghalangi hampir sebagian besar garis pandang. Tetapi di balik payung warna-warni, ada sebuah payung hitam yang jelas jauh lebih tinggi dari payung-payung lainnya, seolah-olah tidak ada orang lain di sekitarnya.

Kaki Anna seperti dipaku ke tanah melihat sosok di luar jendela melalui kaca. Dalam sekejap detak jantungnya tiba-tiba bertambah cepat.

Di seberang tirai hujan dan kerumunan orang, payung-payung saling bersilangan. Long Xiao berdiri di sana dengan tenang dan santai. Di belakangnya dapat terlihat pegunungan yang jauh di luar ibukota. Dengan latar belakang yang begitu indah, membuatnya terlihat begitu menakjubkan hingga seolah-olah pemandangan pegunungan dan hujan deras yang luar itu semuanya mundur dan hanya meninggalkan dia seorang.

Pandangan mereka bertemu. Seulas senyum yang sangat menawan tersungging di wajah Anna.

Bibir tipis Long Xiao terangkat dan juga membentuk seulas senyum.

"Perjalanan yang sulit, Nyonya Long."

Long Xiao memeluk pinggangnya dengan satu tangan dan menempelkan bibir di dahinya. Senyum lembutnya seperti hujan deras yang menyebar di udara.

Anna mengangkat wajahnya dan menatapnya dengan sepasang matanya yang jernih. Bibir merahnya perlahan membuka, suara yang elegan dan menyenangkan sepertinya merupakan dua dunia yang berbeda dengan suara hujan yang berisik, "Aku datang demimu, Tuan Long."

Di bawah langit cerah yang ditopang oleh payung hitam besar, dua mata lembut penuh kasih sayang saling memandang lama sekali dan tidak ada yang bersedia mengakhiri keintiman ini.

Yang Sen mengambil koper dari tangan Anna kemudian menaruhnya di bagasi, Lalu dia kembali ke mobil dan menunggu keduanya.

Anna memandang Long Xiao seolah-olah sudah tidak melihatnya selama ratusan tahun. Setelah beberapa saat dia berkata, "Aku mengira kamu tidak akan datang."