Mister Long, Don't Be Arrogant

Bab 67 Memanggil Namanya Di Mimpi

Bab 67 Memanggil Namanya Di Mimpi

Mo Rufei memegang tangan Chu Luohan dan memasukkan kristal ke dalam tangannya, lalu "prang!" kristal itu jatuh dan pecah di lantai!

Mo Rufei menangis terisak-isak, berjalan ke tangga dan mulai menangis, "Kak Xiao, akhirnya kamu pulang. Chu Luohan dia... Aku datang hanya untuk menemuimu, tapi dia sangat kesal padaku, hiks hiks... Kak Xiao..."

Sesuai dugaan, Mo Rufei menceritakan kejadian tentang perhiasan kristal itu dan menyalahkan Chu Luohan, lalu menekankan bahwa Chu Luohan hendak menyakiti dia dan anaknya.

Bahkan Chu Luohan malas menjelaskan klise semacam ini.

Long Xiao menatap Mo Rufei yang sedang menangis, khawatir dengan anak yang ada di perutnya, "Sudah, aku minta orang belikan kamu yang baru."

Chu Luohan memberikan Long Xiao tatapan yang heran, dia mengira setidaknya Long Xiao akan bertanya mengapa Mo Rufei bisa tiba-tiba muncul di sini.

Tapi dia tidak menanyakan itu.

Seorang wanita selingkuhan terang-terangan muncul di rumah istri pertama. Kalau sampai orang lain tahu, bagaimana harga dirinya?

"Ini bukan masalah barang. Chu Luohan sama sekali tidak bisa menghargai aku, apalagi anakku. Kak Xiao, bibi memintaku datang ke sini untuk tinggal bersamamu karena dia berharap ayahnya bisa menemani bayi ini selama masa prenatal. Tapi aku tidak menyangka dia ada di sini."

Tidak tahu?

Tuan muda Xiao teringat dengan telpon kemarin malam.

Mo Rufei sedang berbohong, tapi Chu Luohan tidak menjelaskan.

Chu Luohan menahan rasa sedih dan bersalah di hatinya, tersenyum dan berkata, "Nona Mo, ini adalah rumahku. Kalau aku tidak berada di sini, jadi aku harus di mana?"

"Apa yang kamu banggakan?! Jangan kira kamu adalah nyonya muda keluarga Long hanya karena namamu tercantum di akta nikah kak Xiao. Sekarang masih belum ada yang mengakuimu."

Long Xiao mengerutkan dahi, "Sudahlah, hentikan."

Apakah dia sedang melindunginya?

"Kamu juga berhenti bicara." Setelah berkata pada Mo Rufei, dia menambahkan lagi satu kalimat kepada Chu Luohan.

Ternyata begitu.

Setelah selesai bertengkar, Chu Luohan berinisiatif turun ke kamar tamu di bawah. Dia tidak ingin bertengkar dengan Mo Rufei untuk merebutkan Long Xiao. Sebaliknya, sesuai pemahamannya terhadap Long Xiao, semakin diributkan semakin dia tidak senang.

Itu sebabnya, dia melakukan yang sebaliknya.

"Merawat janin harus serius. Long Xiao, jaga dia baik-baik."

Chu Luohan keluar dari kamar, kembali ke ruang buku dan lanjut mengetik dengan satu tangan. Hanya masalah waktu sebelum mereka bercerai, jadi supaya apa dia menghabiskan tenaga untuk ini?

Tapi, mengapa hatinya sangat sakit? Melihat Mo Rufei berada di pelukannya, dia merasa sakit hingga tidak bisa bernapas.

Dia sibuk selama beberapa jam. Di sela waktu, dia dipanggil oleh pelayan untuk makan malam, dia hanya makan beberapa suap dengan alasan masih sibuk. Tentu saja, alasan utamanya adalah dia tidak ingin melihat Mo Rufei yang sedang mengambilkan makanan untuk Long Xiao, lalu menyuapinya dengan sok mesra.

Yang lebih menyebalkan adalah Long Xiao tidak menolaknya.

Hampir pukul sepuluh malam, Chu Luohan meraba lehernya yang pegal. Cangkir teh sudah kosong, dia berdiri dan pergi menuangkan air. Baru keluar dari ruang buku, dia mendengar suara tawa Mo Rufei dari kamar tidur utama.

"Kak Xiao, kamu sungguh nakal... Hehehe..."

"Bayinya kan masih kecil? Mana mungkin terasa?"