Poor CEO

Bab 72 Dipermainkan Dengan Kejam dan Tak Berperasaan

Bab 72 Dipermainkan Dengan Kejam dan Tak Berperasaan

Di kantor pribadi Pamela, terdengar suara Sierra mengetuk pintu dan masuk.

Keduanya saling memandang dan tersenyum, mereka tau isi hati satu sama lain.

"Mau minum apa?" Pamela bangun dari kursi, suaranya terdengar santai dan bahagia, tampaknya suasana hatinya sangat baik.

Sierra melambaikan tangannya sambil tertawa, "Aku tidak mau minum apa-apa, aku sudah minum banyak air dari tadi."

Pamela tidak melanjutkannya, ia hanya berjalan dan membuka jendela. Kemudian, ia membuka laci dan mengambil sebungkus rokok dari dalam laci, ia mengambil satu batang rokok dan memberikannya ke Sierra.

Sierra mengambilnya, lalu menyalakannya dan menghisapnya.

"Hari ini benar-benar senang sekali!" Pamela menghembuskan asap rokoknya dan tersenyum dengan penuh penghinaan. "kalau aku tahu kakakku hanya bermain dengannya, buat apa kita masih repot-repot?"

Sierra mengambil sebatang rokok dan menghisapnya dengan elegan. Ia mengangguk dan berkata "Kurasa dia pasti sangat malu untuk tetap tinggal disini, dan tidak lama lagi dia pasti akan pergi dengan sendirinya."

Mata Pamela bercahaya dan berkata, "Akan sangat disayangkan bila membiarkannya pergi begitu saja."

"Apa maksudmu?"

"Tenang, aku punya caraku sendiri." Mata Pamela bercahaya, "Oh iya, bagaimana persiapan acara penghargaan akhir tahun perusahaan kita?"

"Lokasi telah dipilih, di Gedung Jiuzhou."

Pamela mengangguk dan lanjut berkata, "Biarkan Raline ikut hadir."

"Dia?" kaget Sierra, "Kenapa? Baru berapa lama dia bergabung dengan perusahaan, dia sama sekali tidak pantas untuk ikut."

Pamela menggelengkan kepalanya dan berkata, "Biarkan saja dia ikut, akan ada pertunjukan yang seru nanti."

Sierra tampaknya mengerti apa yang akan terjadi dan menganggukkan kepala.

mengatakan bahwa dia sedang dipermainkan oleh Nicholas Sanjaya. kenyataannya siapa yang telah meniduri siapa, Raline yang sudah tau

pria seperti Nicholas Sanjaya

bisa ia terima adalah ia benar-benar menanggapi semua

dahinya dengan keras, diam-diam

Jangan lagi menganggap serius ucapan para

Darwin sengaja pulang lebih awal. Namun saat dia melihat koper Raline dan anaknya yang

tersenyum dan bertanya,

Raline mengangguk dan dengan tidak enak

dan tidak mengatakan

Lin, dan barang-barang Kakak Li belum selesai

Lin tidak kurang dari Raline, sehingga barang yang tidak tega

Li, sini biar aku

tertawa, tidak pernah terpikirkan olehnya hidup sampai usia ini masih bisa dipanggil kakak

dan berkata "Rafa, kamu harus memanggil dengan sebutan Bibi Li,

terdengar sangat tua, jelas-jelas dia

"..."

bocah ini benar-benar, Dia bisa menjilat pantat siapa pun, dan juga

benar, suasana hati

"Anak yang sangat baik dan penurut.

boleh." Rafa sangat senang

dan waktu Darwin terbatas jadi tidak bisa menunggu terlalu lama, jadi kakak

ia tidak ingin menunda waktu Darwin, jadi

dinegosiasikan, Pak Tito sudah menangani semuanya, tapi karena waktunya terlalu singkat, jadi tidak sempat

di tata dengan baik, tetapi masih saja sulit diterima oleh pria yang suka memilih-milih ini. Nicholas Sanjaya adalah pria yang perfectionist

Pak Tito berkata bahwa pemilik rumah sebelumnya hanya tinggal beberapa hari disana, karena dia harus bekerja di

direnovasi ulang,

ke balkon. Pemandangan disini lumayan bagus. Boleh dibilang kawasan elit

mulai nyala di

mewah melaju dengan cepat dihadapan Nicholas Sanjaya, menurut insting sesama pria, Nicholas Sanjaya segera kembali ke kamar dan mencari teleskop

Bình Luận ()

0/255