Pria Keberuntunganku

Bab 285 Kalian Berantam?

Bab 285 Kalian Berantam?

Rasa hangat di tangan mengingati Diana bahwa semua ini bukan mimpi, dia tidak pernah menyangka bahwa hubungan dia dan Fred akan menjadi seperti ini, bahkan dia pun tidak bisa menahan diri untuk menamparnya.

Kesal, kecewa dan bimbang bercampur aduk, sampai dia pun merasa sesak nafas.

Ketika lari ke bawah dengan buru-buru, Bibi Zhang yang sedang bersih-bersih pun terkaget ketika melihat wajah Diana yang dibasahi air mata, dia segera menanyakannya, "Nona Tanoe, kamu kenapa?"

Diana tidak menjawab, dia hanya menahan air mata dan geleng kepala, lalu jalan ke tempat ganti sepatu, dia mengambil sepatu, tas dan langsung lari keluar.

"Nona Tanoe!" panggil Bibi Zhang, tetapi Diana pergi tanpa membalikkan kepala.

"Hah… apa yang terjadi?" Bibi Zhang tidak berani menunda, karena tidak bisa mengejar Diana, dia segera balik ke villa dan langsung naik ke depan pintu kamar utama, "Tuan, kenapa Nona Tanoe lari keluar sambil menangis? Apakah mau suruh orang kejar…"

Pintu kamar utama terbuka, Fred sedang duduk di sofa dengan ekspresi yang datar. Begitu mendengar omongan Bibi Zhang, dia pun menaikkan alis, kemudian mengambil hape di sampingnya untuk menelepon, "Ikuti Diana Tanoe, pastikan keamanannya, dia baru keluar dari villa."

Setelah melakukan semua ini, Fred bangkit dan melihat Bibi Zhang yang berdiri di depan pintu, lalu berkata, "Tidak ada urusan kamu, pergi kerja."

Bibi Zhang mengangguk lalu pergi.

Fred berjalan ke depan balkon, begitu angin dingin menghembus, rasa kedinginan ini masuk melalui kerahnya, sehingga membuat dia semakin sadar.

Setelah memikirkan semua ini, Fred pun menghela nafas, dia memang salah atas masalah ini, karena dia emosi sebelum semuanya jelas.

Tetapi saat dia kembali ke villa, rumah yang kosong, telepon tidak diangkat, sehingga dia menyuruh bawahannya untuk mencari keberadaannya. Ternyata dia sedang makan siang dengan pria lain, mana mungkin dia tidak marah.

Tetapi, ujung-ujungnya adalah dia yang salah. Saat ini, yang mereka butuhkan adalah ketenangan, setelah sudah menenangkan diri, dia baru akan pergi mencarinya.

langkah Diana pun menjadi pelan, suasana hatinya juga sangat komplikasi. Langit sudah gelap, dia juga tidak tahu harus pergi ke

pilihannya tinggal

lama tidak pulang. tetapi setelah keluar dari villa Fred, dia pun tidak ada

melihat taksi kosong, dia pun menghentikannya

di tempat tujuan. Begitu masuk pintu villa, terdengar suara ibu yang kecil dan cepat, sepertinya

tiba di depan pintu, Ibu Tanoe yang sedang duduk di sofa pun segera bangkit ketika mendengar suara,

menjawab, "Mama,

perbincangan di hape, kemudian jalan ke arah pintu, "Diana,

lelah, dia geleng kepala dan berkata, "Mama, saya hanya ingin mandir

mengernyitkan alis, semua keraguan di samping mulut pun ditelan kembali,

ke atas, hati Diana merasa

tidur, dia baru jalan ke kamar mandi, melihat Mama yang sedang sibuk, hatinya pun menjadi

cari waktu pergi lihat Papa ya? Dia pasti kangen dengan

tidak membreikan jawaban. Beberapa saat kemudian, dia baru membalikkan badan

Diana pun tidak mau banyak pikir, dia

suatu hari nanti, sehingga dia pun tidak

melihat nomor dari nomor telepon dari rumah Fred, dia pun mematikan

membuat kelelahan tubuhnya menghilang, bahkan pikiran pun

pikirannya. Diana

terdengar suara di samping

Mama

Cuaca lagi dingin, bagaimana kalau demam?

baru sadar kalau air di bak mandi sudah menjadi

mandi, otak Diana masih pusing-pusing,

Tanoe sudah membangunkan Diana pagi-pagi, "Diana,

Bình Luận ()

0/255