Bab 87 Luka Parah

Aku hanya merasakan sebuah tatapan yang dingin dari belakang, aku tidak ingin melihat kebelakang, tetapi aku teringat mungkin saja tadi membuat dia tidak senang, maka dari itu aku tersenyum lebar dan menoleh kebelakang.

Ekspresinya tidak seperti biasa, aku tahu dia sangat marah, dan segera berkata, "Sejak dulu."

"Dimana, jelaskan."

"Diatas bkit kota lu."

Setelah aku berkata, dia berfikir sejenak kemudian menjawab, "Apakah maksud kamu kamu pergi kekota Lu?"

"Benar........"

Aku takut dia marah, aku tidak berani tidak menjawab pertanyaannya, jika salah jawab, aku akan dalam bahaya besar,

Dia kembali berfikir, aku merasa sangat ketakutan, baru saja aku ingin menjelaskan, dia berjalan beberapa langkah dan melihat perak dijalanan, "dari mana kamu mendapatkan semua perak ini?"

"Ini...itu..........."

"Aku yang memberikannya."

Sebelum aku menjawab, Andi membantuku menjawab pertanyaan ini.

Saat ini, aku merasa Edo semakin dingin, dan tidak terlihat bahwa dia sedang marah.

Andi yang tadi berbicara terlihat lebih tenang, melihat suasana canggung antara kami.

Theo merasa ada yang aneh dan segera berkata.

"Tuan muda, hal yang paling penting saat ini adalah mencegah ornag-orang itu, jika mereka kembali, maka akan keadaan akan gawat, lebih baik kita pergi ketempat yang aman?"

Mereka juga tahu disini bukan tempat yang aman, baru saja terjadi peperangan yang besar, maka dari itu mereka setuju pendapat Theo.

Andi menatapku.

berdarah, apakah

Darah? Bagaimana mungkin?

bisa berdarah? Aku menatap

mungkin terkena sedikit pedang

eprduli kepada Edo, sama sekali tidak

merasa sedikit aneh,

wajah yang diam berjalan

"Apakah masih sakit?"

merasakan luka ini walaupun tidak dalam tapi cukup sakit, aku tidak ingin membuat mereka

"Tidak sakit."

aku merasa semakin sakit, kulitku seperti

menahan sakitnya, tubuhku bergetar

wajahku yang

kamu bilang

kesakitan sampai

apa yang

"Sangat sakit....... "

itu semua, luka semakin sakit, dan tidak

untuknya tetapi

pelukannya, aku tidak dapat mengungkapkan betapa sakitnya aku, Andi berjalan kearahku, ketenangan diwajahnya

mengerti arti perkataanya, ekspresi

menggendongku dan

dan merasakan digendong, dan mendengar suara seseorang yang

"Cepat....panggilkan tabib! Cepat!"

tidur, aku merasa sakitku

Sangat sakit! Jangan..........

Jangan kemari..........

bergerak ditempat tidur, aku bagaikan terbakar api, tidak dapat

saat aku kesakitan, tangan lembut ini mengehntikan gerakanku, saat itu aku

Bình Luận ()

0/255