Bab 95 Jauhi Aku

"Kakak ketujuh sepertinya salah menyelamakan orang, kamu tidak layak."

Perkataannya bagaikan ribuan jarum yang menusuk hatiku, membuat hatiku sangat sakit.

Aku menggenggam giok itu dengan erat.

Dia salah menyelamatkan orang, aku tidak layak dia mengorbankan darahnya?

Orang sepertiku tidak layak? Aku sudah salah menilai kebaikan hatinya? Theo juga berkata Edo sangat baik kepadaku, sudah melakukan banyak hal demi aku, menghancurkan perampok digunung lu.

Aku terbaring dipelukannya, pada saat aku terbangun karena kelembutan itu. Pada saat dia menimpa aku, aku melihat gairahnya.

Dia bagaikan kunang-kunang pada saat malam, bersilau, disampingnya penuh dengan angsa putih yang cantik mengelilinginya.

Aku melihat keatas, memandang Yuda, "kamu datang untuk memberitahukan aku hal ini?"

Tadi dia ingin membunuhku, jika dia demi adiknya Winda, dia tidak perlu memberitahukanku masalah ini, aku dan Edo tidak bersama, adalah tujuannya bukan?

Tetapi dia memberitahukan aku masalah ini, apakah dia ingin aku bekerja untuk Edo?

"Apakah kamu ingin tahu alasannya?"

"........" Aku menganggukkan kepala, aku sudah menghadapi banyak masalah, aku bukanlah wanita yang lemah lagi.

Aku merasa dia datang mencariku pasti mempunyai tujuan.

Yuda adalah pria yang tidak bisa ditebak.

Jika dia adalah musuhku, aku rasa aku akan mati dengan mengenaskan.

"Aku benar-benar tidak dapat menebak kamu, apa yang kamu inginkan dariku?"

"Ingin apa......"

diam, dan

seperti sedang menerawang jauh

sedang berfikir dan tidak

tidak

membuka pintu

tunggu sampai kakak ketujug mendapatkan yang dia inginkan, kamu akan mengerti."

selesai mengatakannya dan

duduk diruangan yang

dimana keinginan Edo

dia sudah seorang pangeran, apapun yang dia inginkan sudah ada,

duduk disana ckup lama, pada saat sampai dirumah, sudah larut

ditkamau Edo, pintunya terbuka, dia

diatas meja ada sebuah teko, dan menuangkan

melihat ada bekas darah

berlari dan menuangkan teh

melihat teh yang mengalir dari teko

dia terus melihatku, tatapannya yang dingin seolah-olah

aku tidak

"Pangeran ketujuh, kamu......."

diri untuk bertanya, tetapi tiba-tiba

tidak menyangka akan melihatku, terdiam sejenak, kemudian

"Kakak ketujuh, masalah

"O?"

yang membelinya, kami mengikutinya, dan ternyata

"o...begitu."

Edo sudah menebak jawabannya, dan tersenyum

Yuda segera menjawab.

pambunuh

buku ditangannya, melambaikan tangannya kepada Yuda, menghentikan

Bình Luận ()

0/255