Bab 18 Melawan

Dosis obat bius itu tidak banyak, Ronald berbaring di aula sebentar, kemudian dengan perlahan kembali normal.

Ivonne duduk di sisinya. Orang-orang yang melayani diusir keluar semuanya, di dalam ruangan itu begitu sepi.

Jari-jari yang keras bagai baja itu mencekik lehernya hingga dia tidak bisa bernafas, Ronald bagai binatang buas yang mengamuk, matanya penuh dengan kemarahan, ada kalimat yang keluar dari geramannya, "Kamu berani meracuni Kakek?"

Kepala Ivonne dipaksa untuk mendongak, wajahnya seketika emerah, matanya juga memerah, dengan kesulitan berkata: "Yang Mulia tidak melihat ke bawah."

Sengatan jarum yang menusuk daging pahanya begitu menusuk, jarum ini sangat istimewa, ada sebuah tabung kecil dengan cairan di dalamnya.

"Kamu boleh mencekikku hingga mati, tapi sebelum aku mati, kamu juga pasti akan mati. Jadi, mengapa kamu tidak mendengarkanku terlebih dulu?" Ivonne berkata dengan kesulitan, ada kekeraskepalaan di pandangan matanya.

Tangan Raja Ronald mengendur secara perlahan, tapi kemarahan di matanya makin membakar, wajah tampan itu sedikit terdistorsi oleh kemarahan. Dia mencoba menahan kemarahannya yang meluap.

"Katakan, racun apa yang kamu masukkan?" Dia tidak pernah tahu Ivonne bisa menggunakan racun, sepertinya dia benar-benar meremehkannya sebelumnya.