Ronald perlahan berjalan masuk dengan bantuan Rendi.

Menggunakan pakaian berwarna putih dengan sabuk giok emas di pinggangnya, wajah tampannya itu diselimuti sinar matahari, seolah-olah dia adalah Pangeran sakit... yang turun dari langit. Karena gerakannya yang terlalu lambat, berjalan satu langkah saja seakan menghabiskan banyak tenaganya.

Ronald datang kemari dengan kesulitan, wajahnya gembira, alisnya lembut, bibirnya melengkung naik menatap Ivonne.

"Bagaimana kondisi Yang Mulia?" Nenek Viona bergegas menyapa.

Yenny juga berdiri, terlihat sedikit terkejut.

Ronald mengalihkan padangan matanya dari Ivonne ke wajah wanita tua itu, sambil tersenyum dia berkata, "Nyonya Viona memiliki hati, aku sudah jauh lebih baik."

Setelah Ronald selesai berbicara, dia dengan perlahan berjalan ke sisi Ivonne. Dengan nada cemberut dia bertanya, "Apa masih marah? Hari ini saja tidak pergi untuk melihatku, jangan marah lagi, oke?"

Ivonne menatapnya, sebenarnya apa yang diinginkan orang ini? Sengaja membuat tindakan seperti ini, bahkan jika itu demi Ivonne juga tidak harus sampai seperti ini.

Ivonne perlahan berkata, "Aku tidak marah."

Ronald akhirnya menghela nafas lega, "Baguslah jika tidak marah. Lalu kamu berkata bahwa kamu akan menemaniku keluar hari ini, mengapa tidak pergi?"

Apa Ivonne pernah mengatakannya?

"Aku ada tamu."

Ronald memandangi Nenek Viona dengan raut sulit, "Begitu? Kalau begitu apakah kita tidak bisa pergi?"

Nenek Viona bergegas berkata, "Waktunya sudah tidak pagi lagi, aku sudah harus kembali."

"Begitu cepat? Tidak duduk lagi untuk sementara waktu?" Ronald tampak sangat ramah.

"Tidak, tidak, aku masih ada urusan. Jika ada waktu aku akan datang lagi untuk menjenguk Yang Mulia... dan Permaisuri." Kata Nenek Vioana, kemudian dia memberi isyarat pada Yenny dan Cecil.

Cecil berkata, "Kakak tadi berkata bahwa aku bisa tinggal di sini selama beberapa hari."

Bình Luận ()

0/255