Sweety Boss

3. Perjanjian Satu Bulan

Arkha dan Haris sedang asik-asiknya main PS ketika seorang ibu paruh baya menghampiri.

"Haris, udah sore. Waktunya nganter adikmu ngaji." Ibu itu berucap sambil meletakkan segelas jus untuk Arkha.

"Oh, iya! Hampir lupa, Bu!" Haris berdiri langsung mencium tangan wanita berdaster bunga-bunga itu. "Pulang dulu ya, Bu. Bro, gue pulang ya," katanya pada Arkha yang mengangguk singkat.

"Ini Nak Arkha, minumnya," ujar wanita paruh baya yang rambutnya mulai dihinggapi uban tipis.

Arkha tersenyum, meraih jus jeruk dan meneguknya sedikit, lalu meletakkan kembali ke meja. Ia tersenyum mengetahui wanita paruh baya itu sejak tadi memperhatikannya dengan cahaya mata penuh rindu.

"Duduk sini dulu, Bu." Arkha menepuk sofa sebelahnya.

Ibu itu sedikit terkejut, tapi melihat kesungguhan Arkha, ia akhirnya duduk juga, meski agak canggung.

"Udah lama banget kita nggak kumpul, Bu." Arkha memeluk wanita yang bau asap masakan itu. Bau khas yang Arkha selalu suka.

"Iya, Nak. Lama banget. Ibu kaget lihat kamu jadi makin ganteng begini. Dulu kamu masih kecil, imut, sekarang jadi ganteng kayak artis-artis Korea." Ia membalas pelukan Arkha.

“Tahu artis Korea segala Ibu nih,” ujar Arkha tergelitik mendengarnya.

“Kan si Haris sering nonton pilemnya di laptop.” Wanita itu tertawa kecil namun sejenak kemudian berganti merenung.

"Dulu, rasanya ramai waktu ada kamu, Haris, dan Luna."

Senyum Arkha sesaat lalu tiba-tiba lenyap. Mendung petang menggelayuti wajahnya seketika. Ia melepas diri dari dekapannya. Menatap kosong jendela kaca.

"Maaf ibu nggak bermaksud...,"

"Nggak papa, Bu," potong Arkha cepat. Ia kemudian berdiri, melangkah lemah menuju kamar.

Arkha merebahkan diri di kasur, membuka ponsel. Tidak ada fitur apapun yang ia buka. Arkha hanya termangu menatap wallpaper ponselnya. Foto seorang gadis cilik berusia 12 tahun. Cantik. Matanya bulat dengan bulu mata panjang yang lentik alami. Senyumnya mengembang sempurna, memperlihatkan lesung di kedua pipinya. Belum lagi gigi gingsul di bagian kanan yang kian mempermanis.

"Gimana kabar lo, Lun?" Arkha mencoba tersenyum tapi sulit. "Gue kangen banget sama lo. Sampai kapanpun, gue tetap sayang sama lo," bisiknya parau pada sosok yang begitu dicintainya itu. Laluna Mariana.

%%%

Pagi-pagi sekali, Zara tiba di sekolah. Ia sedang ingin segera berjumpa dengan seseorang, ingin segera mencincangnya.

"Ra, gue salah apa?" Suara Keyla terdengar takut-takut.

"Maksud lo?" Zara jadi bingung.

"Muka lo dari tadi kayak baju belum disetrika. Kusut amat," ungkap Keyla menunjuk wajah Zara.

Bình Luận ()

0/255