Sweety Boss

4. Perintah Pertama

"What wouold you do...

If my heart was torn in two

Then you couldn’t make things new,

Just by saying i love..., you...,”

Seisi kelas hening. Melihat ke satu arah, pada Arkha yang memetik gitar sambil bersenandung merdu. Jam kedua kosong, karena Pak Radias -guru fisika- sedang sakit. Mereka seharusnya prihatin, namun malah bereuforia karena bebas dari rumus-rumus fisika yang membuat kepala mereka berputar-putar. Mereka kemudian sibuk dengan aktifitas masing-masing. Ada yang tiduran di lantai, ada yang main game di ponsel, cewek-cewek sibuk ngegosipin tetangga sekompleks yang ketahuan kumpul kebo, di rombongan lain membahas drama Korea yang lagi booming, sedang Haris dan Udin membahas siapa bapak dari kucing bu Kantin yang hamil.

"Sumpah, Ris, bukan gue!" Udin mengangkat tangan ke udara, dengan muka serius.

"Gue nggak terima kalau Clara hamil. Kasian, kan, dia nanti nggak seksi lagi kalau harus netekin anak-anaknya. Bakal kendor semua itu nenen. Parah lagi kalau badannya makin kurus." Haris tak kalah serius. Clara-nama kucing bu kantin -yang tiap ke kantin, Haris pasti menyempatkan menggendong Clara. Si putih bersih dengan mata bulat hijau itu, Haris sangat menyayanginya.

“Kita harus nanya si Black yang sering nongkrong dekat sekolah. Gue rasa dia yang sudah berbuat tidak senonoh sama Clara.” Udin terlihat sangat serius. Haris manggut-manggut.

Kegaduhan kelas pun terhenti ketika Arkha yang suntuk, meminjam gitar Udin dan mulai menciptakan irama yang indah. Ketika Arkha mulai bernyanyi, para siswi serasa seperti terhipnotis. Lagu More Than Words yang romantis, mengalun di antara rintik gerimis. Arkha menatap jendela kaca yang basah, di sana ia merindu si gadis berlesung pipit.

"Woahhh!!! Kelas kita punya penyanyi!" seru Udin kagum seraya bertepuk tangan heboh. Seisi kelas jadi ikut bertepuk tangan.

"Biasa aja, Din," jawab Arkha seraya mengembalikan gitar pada Udin.

"Oh, ya. Mending lo ikut ekskul nyanyi aja. Lo belum nentuin mau masuk mana, kan?" Haris mengusulkan.

"Emang, apa aja ekskul di sini?"

"Marching band, Pramuka, PMR, tarik suara, nari, drama, futsal, basket."

"Em, kalian ikut apa?" Arkha balik tanya.

"Gue Pramuka," jawab Haris mantap. “Si Bimo basket pastinya. Gila basket itu orang.”

"Gue, tarik suara." Udin menunjuk dada dengan bangga.

"Oke, gue pilih tarik suara." Arkha memutuskan.

"Eh, tunggu. Lo itu baru dua hari di sini udah populer. Kenapa nggak masuk drama aja?" usul Udin tiba-tiba.

"Apa hubungannya populer sama drama?" protes Haris.

"Bukan gitu, Ris. Yuda kan populer cakepnya, dia bintang di ekskul drama. Nah, kenapa lo nggak nyaingin dia aja, Kha?"

"Lo ngasut-ngasut ke hal negatif." Haris menoyor pipi Udin.

"Hahaha. Nggak perlu saingan, udah jelas gue yang paling keren." Arkha berkata penuh percaya diri.

%%%

Bel baru saja berbunyi, dan Bimo langsung melejit ke kelas sebelah. Rasanya ia ingin pindah kelas demi berkumpul dengan geng setianya. Dulu, mereka adalah tiga sekawan yang selalu lengket. Main bola bareng, main ps bareng, jalan-jalan bareng, semuanya barengan terus, kecuali ke kamar mandi. Mereka; Arkha, Haris, dan Bimo. Tapi setelah lulus SD, Arkha pergi ke Jogja, ingin selamanya menetap di sana, melupakan hari-hari menyedihkan itu. Tapi nyatanya, Arkha kembali.

“Gue seneng banget bisa kumpul lagi sama lo, Kha, kayak waktu kita kecil,” cetus Bimo tiba-tiba di antara canda tawa mereka. “Kalau boleh jujur, masa kecil gue itu masa yang paling indah," ungkap Bimo tulus.

Bình Luận ()

0/255