Sweety Boss

6. Asisten

Sekolah masih sangat sepi pagi itu. Zara menemukan Arkha di kelasnya.

"Ngapain lo nyuruh gue dateng pagi-pagi?" tanya Zara dingin, ogah-ogahan melihat Arkha.

"Nih, kerjain PR Fisika gue." Arkha menunjuk buku tulis beserta buku paket yang sudah ada di meja.

"Gue??!" Zara mulai geram. Sial. Arkha benar-benar menjadikannya seperti kacung.

"Lo jangan kebanyakan protes. Inget, perjanjian kita satu bulan!" ancam Arkha.

Dua hari aja udah berasa kayak dua abad kalo lihat muka lo. Apalagi sebulan? Bisa mampus gue lo suruh-suruh.

Tapi Zara tidak punya pilihan.

Dia menyabet buku Arkha dengan raut sangat tidak ikhlas, lalu melangkah cepat keluar dari kelas itu. Arkha tersenyum puas melihat Zara jinak.

Monik yang kebagian jatah piket hari itu, keheranan melihat Zara keluar dari kelasnya. Ia langsung membuang sapunya asal, lalu menyusul Zara. Zara memilih mengerjakan di bangkunya sendiri dari pada harus berada di dekat cowok angkuh itu.

"Zaraaa..., itu kan bukunya Arkha. Lo ngerjain PR dia?" teriak Monik heboh.

Zara tidak merespon. Ia sibuk membuka-buka buku paket.

"Arkha itu sebenarnya nggak bodoh-bodoh amat, Ra. Denger-denger, di Jogja kemaren, dia dapat peringkat enam. Tapi kok dia nyuruh lo ngerjain PR-nya ya? Gue bingung kenapa lo bisa nurut banget sama Arkha. Lo jadian sama dia?"

Zara langsung melotot.

"Amit-amit!"

"Terus?" Monik tidak menyerah mencecar Zara.

"Gue ada perjanjian sama dia. Udah deh Moniiik, ini masalah gue." Zara memaksa Monik untuk menghentikan racauannya.

"Em, tapi kalau gue lihat-lihat, Arkha itu cakep. Tajir beuuud. Pinter nyanyi lagi. Oh ya, dia udah masuk ekskul tarik suara, loh. Aha! Ini kan Rabu, jadwal ekskul dia tuh Rabu Kamis." Monik nyerocos sendiri tanpa titik koma.

"Terus, gue harus bilang wow, gitu?" Zara menatap malas pada Monik yang justru terkekeh. "Ngapain coba lo kasih tahu jadwal ekskul dia?"

"Ya, mana tau kalo lo kepingin nemuin dia."

"Moniiik!!"

"Iya, iya, sori." Monik tertawa, namun sesaat kemudian dia diam. "Gue lupa, lo kan punya Kak Dirli. Iya deh, nggak mungkin banget lo ninggalin Kak Dirli. Kak Dirli itu sosok cowok yang the best banget. Beruntung banget lo, Ra. Cowok gue aja nggak segitu so sweet-nya. Gue masih inget, dulu dia nembak lo di depan kelas, disaksikan banyak orang." Monik memperhatikan arah papan tulis, terbayang momen romantis Dirli bersama Zara.

Zara ikut menatap papan tulis. Senyumnya terbit tiap mengenang hari itu.

"Kak Dirli selalu kasih kejutan. Pas ultah lo aja, Kak Dirli kasih surprise boneka beruang gede banget. Sering sms lo, sering nelpon. Selalu antar jemput lo sekolah. Pake mobil keren lagi. Padahal rumah kalian berlawanan arah. Trus, kalo lo ekskul, pasti dia nunggu sampe lo pulang. Kalau di sekolah dia selalu nyamperin lo di kelas, kasih perhatian sama lo. Ada aja yang dia bawa. Makanan, minuman, cemilan. Pokoknya kalian itu kayak Romeo Julietnya sekolah ini. Bikin cewek-cewek iri masal." Meski beda kelas, Monik selalu tidak ketinggalan informasi juga gosip-gosip terpanas yang sedang booming di SMA Tunas Bangsa. Apalagi, hubungan Zara dan Dirli yang jadi idaman kaum hawa, apapun tentang mereka akan menyebar begitu cepat, lebih cepat dari kecepatan bumi mengitari matahari.

"Itu yang bikin gue sayang banget sama dia," jawab Zara sungguh-sungguh.

Bình Luận ()

0/255