Tersanjung

Bab 70 Bunga Persik yang Jelek Bermekaran

Bab 70 Bunga Persik yang Jelek Bermekaran

Sarwinda yang berdiri di depan pintu sedang bersiap-siap untuk membuka pintu, pandangannya tiba-tiba berpindah ke sebuah mobil yang pergi dengan cepat, dia juga tidak tahu apa dia yang sudah salah lihat, itu harusnya……

"Ada apa?"

"Tidak apa-apa, kita masuk saja."

Di dalam mobil, Markus sedang menceritakan diari yang dilihat setengah kepada Sully.

"Dia tidak menulis hal-hal yang terlalu penting, dia hanya mengingat hal-hal yang kecil, aku dengan kasarnya membaca, dan membalik ke halaman terakhir, isinya sampai kepergian ibumu…… lalu sudah tidak ada lagi."

"Kalau begitu kelihatannya kita masih menemukan sebuah harta karun……"

Sully mengeluarkan suara, dan dia kepikiran 2 cincin yang sedang berada di sakunya.

"Buku akuntansi itu…… aku mau lihat dulu……"

Sahut Sully sembari menjulurkan tangannya untuk mengambil buku itu, tetapi Markus menangkap tangannya.

"Kamu percaya padaku, isi yang ada di dalam ini kamu jangan lihat dengan tergesa-gesa, aku takut jika ada sesuatu, kamu bisa tidak tahan."

Sully memikirkannya kembali, ada kemungkinan seperti yang dikatakan oleh Markus, lalu dia dengan patuhnya menarik kembali tangannya.

"Tetapi aku sangat penasaran……"

"Aku akan membiarkanmu melihat diari ini saat kita pulang, jangan membacanya di mobil, akan mudah mabuk."

Sahut Markus sembari menginjak gas, "Sudah hampir sampai."

Sully melihat jalan sekitar yang sudah tidak asing lagi, "Tunggu, kamu sudah membawaku sampai disini?"

Mengelilingi, ternyata dia sendiri sudah pulang ke villa yang ada di Pinggiran barat!

"Disini tidak ada orang, kita akan lebih leluasa untuk berbicara." Sahut Markus sembari mengerem mobil, dengan stabilnya dia memarkirkan mobilnya di depan pintu.

Sepertinya untuk membuktikan apa yang dimaksudkan dengan tidak ada orang oleh Markus, di depan pintu terdapat seseorang yang sedang berdiri, dia berdiri tegak dan sepertinya sedang menunggu seseorang.

Sully melihat orang itu, dan merasa bahwa dia sendiri sudah dipermainkan.

"Ini yang kamu bilang tidak ada orang?"

Markus melihat Momo yang berdiri tidak jauh dengannya, dia ada sedikit sakit kepala, kenapa dia bisa berada disini?

Dan di saat ini, Momo juga melihatnya, dia berlangkah untuk menuju ke arah Markus.

"Markus, kamu cepat kesana untuk menyelesaikannya, aku tidak turun dari mobil dulu!" Ada sebuah perasaan yang ketangkap basah oleh Sully dan membuatnya susah, dia menyuruh Markus untuk turun dulu.

Markus didorong dari luar maupun dalam dan membuatnya salah tingkah, dia hanya bisa membuat Sully untuk tinggal ke dalam mobil dulu, lalu dia turun dengan muka yang tebal.

"Kenapa kamu bisa datang?"

baru pulang

mulut pada waktu yang bersamaan, lalu

"Ladies first."

kemana…… aku sepertinya melihat

seperti tidak ada apa-apa yang terjadi,

mobilnya di parkirkan adalah sebuah

lalu dia berjalan mengarah mobil depannya, dan menghadang posisi

aku salah

mencariku? Jangankan kamu datang hanya spesial untuk

menjadi lebih tidak natural, "Benar, aku mikir bahwa aku sudah lama tidak bertemu dengan kamu,

saja aku di rumahku yang di pertengahan kota itu, aku biasanya tidak

baru saja dia ingin berkata

notifikasi dari telepon tersebut,

Markus bertanya dengan

kamu juga tahu belakangan aku baru saja pulang dan sedang

dia mengangkat teleponnya di tempat yang agak

tempat kursinya, dia

merasakan, bahwa Momo ini

yang ada di telepon itu,

Markus yang ada di belakang sekilas, lalu menyembunyikan

mau mengajakmu untuk makan, tetapi sekarang…...takutnya sudah tidak

"Kenapa?"

ke sana sebentar,

yang mengantarmu

usah, aku tadi

yang ada di tangannya, lalu dengan tergesa-gesa dia berjalan menuju

mobil Momo menghilang di dalam penglihatannya, Sully baru membuka pintu dan turun

Lain kali jangan menyuruhku untuk melakukan hal seperti ini lagi." Markus hanya melakukannya sekali, di

kamu

salah,

"Ayuk."

masuk kedalam, Sully berkata dengan sedikit tidak sabar, "Cepat beritahu aku, sebenarnya apa yang

kepadanya, "Aku sudah bilang padamu bahwa ini semua adalah hal-hal

mengambilnya, dan dia membuka

cuaca cerah

murid guruku, guru menyuruhku untuk melihat bagaimana tingkah laku seseorang tersebut. Sejujurnya aku ingin

itu aku tidak berani mengatakannya, aku menelan perkataan itu dengan pelan-pelan, lalu aku mengikuti perintah guru ke alamat yang dikirimkannya, itu adalah sebuah cafe, katanya orang yang

mengenakan mantel berwarna kuning, akhirnya diluar dugaan, aku melihat

salah, apakah guru ingin

kakak adik itu sangat

"Dek, apa panggilannya ya?"

orang yang di depanku juga tidak menganggapnya dengan serius, dan

aku dengan dia, sesuai logika,

isi diari itu, ternyata yang diceritakan

dari ayahmu, apakah

kecil, sepertinya memang ada seseorang, yang sering

Bình Luận ()

0/255