A Closed Book

31. Merasa Aneh

"Kita perlu bicara."

Anugrah mengangguk pada Reza, sementara Raefal dan Raesha menatap mereka bergantian. Tak ada ketegangan di antara mereka, begitu tenang seakan-akan perjumpaan mereka adalah hal biasa. Padahal Anugrah menghilang selama beberapa hari, dan Reza justru menemukannya di indekos sekretarisnya.

Indekos milik Raefal menjadi tempat untuk berbicara. Raefal tidak mempermasalahkannya, dan Raesha berusaha untuk tidak menguping. Dia sebenarnya penasaran akan apa yang mereka bicarakan. Tenang, kah? Atau terjadi perdebatan yang menarik? Oke ... itu berlebihan. Tentu mereka menyelesaikannya dengan tenang.

"Masalahnya rumit." Raefal berucap setelah Anugrah dan Reza masuk ke dalam indekosnya. Dia mengenyakkan diri di sofa milik Raesha, menghela napas kuat-kuat seakan-akan dirinya pula ikut masalah mereka. Kemudian dia teringat akan mi ayam yang diberikan oleh Reza. "Ambilkan mangkok, Sha."

Raesha menurut saja. Entah kenapa dia mau peduli dengan Anugrah. Padahal sebelumnya dia membenci pria itu. Namun, jika dipikir-pikir, Anugrah lumayan baik juga. Atau sifatnya yang selama ini karena terdesak? Dia membutuhkan tempat untuk melarikan diri dari masalahnya. Mungkin saja, bukan?

Menggelengkan kepalanya kuat, Raesha mendengkus untuk dirinya sendiri.

Setelah hampir setengah jam, Reza pamit pada Raesha, tetapi anehnya, ia tidak melihat Anugrah ikut keluar. Ingin sekali Raesha bertanya tentang Anugrah, tetapi akan terdengar aneh jika menanyakannya pada Reza setelah apa yang dilakukannya di pasar malam tadi. Dia bahkan baru kepikiran kejadian itu.

Esoknya, Anugrah terlihat biasa saja alih-alih terbebani akibat semalam. Mungkin pembicaraannya bersama Reza memberinya pencerahan. Kendati demikian, Raesha tidak bertanya walau ia penasaran.

"Kenapa melihat ke arahku seperti itu? Kamu naksir aku?"

Raesha mengerjap ketika mendengar pertanyaan dari Anugrah, lalu segera memindahkan pandangannya saat mata Anugrah terus memakunya.

"Tidak," jawab Raesha cepat, kembali memakan nasi gorengnya. Dan karena Anugrah masih memandang Raesha, Raefal segera melemparkan sendok dan tepat mengenai pipi Anugrah.

"Jangan bilang, kau naksir dengan sepupuku!"

***

Sikapnya terhadap Reza sedikit berubah setelah kejadian semalam. Entahlah, lebih ringan? Pun dengan Reza. Walaupun awalnya terasa canggung, Raesha bisa mengatasinya berkat pria itu. Aneh rasanya jika Reza terpuruk karena penolakannya.

Raesha kagum.

Ryan Rahardian datang pagi ini, membicarakan pekerjaan bersama Reza. Namun, pria itu justru berceletuk, "Saya lihat, semalam kalian berkencan. Apa sekarang status kalian sepasang―"

"Tidak!" Raesha menyela dengan cepat sampai-sampai Ryan berjingkat dari duduknya, dan Reza hanya terkekeh alih-alih menyesal.

"Oh .... Saya kira―"

"Ryan." Perkataan Ryan kembali disela. Reza menopang dagunya dengan kedua tangan, menyuruh Ryan untuk duduk di kursi yang satunya―di sebelah Raesha.

"Baiklah, Raesha. Kamu bisa kembali bekerja."

Raesha berdiri dari duduknya, membungkuk hormat sebelum keluar dari ruangan besar milik bosnya.

Saat jam makan siang, Reza kembali mengajaknya makan bersama. Tak ada alasan untuk Raesha menolaknya, atau ia bisa kembali menyakiti pria itu. Reza juga bilang, mereka bisa memulainya dengan lebih baik. Sebagai teman.

Pun saat pulang kerja, Reza kembali menawarinya tumpangan, tetapi tidak kembali berbicara dengan Anugrah, kembali membuat Raesha bertanya-tanya. Ada apa?

Elvan kembali datang di malam harinya, tidak membawa makanan membuat Raefal mengomel. Namun, Elvan dengan pintarnya berkata, "Ada Anugrah di sini. Kenapa harus aku?"

Yang menjadi sasaran, hanya menanggapinya biasa, tidak protes sama sekali. Dengan cepat pula Raefal meraih ponsel milik Anugrah. Dan karena membukanya harus dengan pendeteksi wajah, Raefal dibuat kesal saat Anugrah pergi ke dapur untuk membuat kopi. Raefal kesal, tentu saja. Karena itu pula, ia menyuruh Raesha untuk membuatkannya kopi juga alih-alih menghadapkan ponsel Anugrah pada wajah pemiliknya.

"Semuanya baik-baik saja?" Raesha mengeluarkan pertanyaan yang selama satu jam ini disimpannya. Anugrah sedang menuangkan air panas pada gelasnya, tidak juga menoleh pada Raesha atau pun menjawabnya.

Mungkin pria itu tidak baik-baik saja, dan tidak ingin mengungkapkannya pada orang lain. Raesha mengerti. Untuk itu, dia tidak bertanya lebih lanjut.

"Makasih." Anugrah berucap setelah satu menit hening membuat Raesha menoleh. Kemudian Anugrah melanjutkan, "Kamu sudah baik padaku. Dulu, maupun sekarang."