A Closed Book

32. Night Changes

"Kau pulang denganku."

Perkataan yang keluar dari mulut Anugrah berhasil membuat Raesha cemas dan waspada. Ia bisa merasakan tatapan Ava dan Nimas padanya, seolah-olah bertanya melalui telepati. Sementara Kiki, yang berniat untuk mengantarkan Raesha pulang dengan motor ninjanya, hanya bisa bersedih dalam hati.

"A-aku pulang dengan Ava saja," tolak Raesha, berhasil membuat Kiki berniat menghampiri Raesha. Namun, niat pria berjaket hijau itu harus dibatalkan lantaran Anugrah menatapnya dengan tajam.

"Aku sudah izin dengan Abang kamu. Ayo." Anugrah menarik lengan Raesha dan menyeretnya menuju parkiran. Raesha bisa melihat tatapan bertanya teman-temannya, terlebih lagi Ava dan Nimas. Ia hanya berharap, semoga ponselnya tak akan mengeluarkan banyak notifikasi nantinya.

Suasana di dalam mobil, lengang saat mereka meninggalkan kedai. Atau lebih tepatnya, canggung. Anugrah tidak perlu repot-repot membuka pembicaraan, karena dirinya memang pendiam. Namun, beda halnya dengan Raesha. Karena kecanggungan itu pula, ia ingin cepat-cepat sampai indekos.

"Lho? Kenapa ke sini?" Raesha heran ketika mobil Anugrah justru berbelok ke kiri, lalu berhenti di bahu jalan alih-alih lurus.

"Beli makanan buat Abang kamu," jawab Anugrah tanpa perlu repot-repot menoleh pada Raesha.

"Kenapa tidak sekalian soto saja?" Perkataan Raesha membuat Anugrah tidak jadi membuka pintu.

Pria itu menoleh menatap Raesha datar. "Mahal." Lalu Anugrah keluar dari mobil, mengabaikan Raesha yang melangah.

Mahal? Selama beberapa hari tinggal di indekos Raefal, Anugrah bahkan rela membeli makanan yang harganya lebih mahal dari lima mangkuk soto. Dan sekarang? Apakah Anugrah menjadi bakhil lagi? Gelar Kampr*t ternyata masih sangat cocok disandang olehnya.

Ketoprak dan minuman isotonik. Raesha berharap, semoga Raefal protes dan kembali menyuruh Anugrah membelikannya dengan yang lebih mahal lagi!

"Raesha sudah makan, 'kan? Berarti buatku." Raefal itu doyan atau lapar? Memakan ketoprak dengan cepat tanpa protes sama sekali. Minuman isotonik pun, diteguknya dengan rakus.

Ah ... Raesha tahu. Mungkin karena Anugrah membawa ketoprak-nya dua, karena sebab itulah Raefal tidak melayangkan protes.

"Kenapa kamu dateng ke sini?" Raesha bertanya setelah mencuci mukanya, duduk di samping Raefal, lalu mengganti saluran televisi. Sebenarnya, pertanyaan tersebutlah yang muncul di dalam kepalanya sesaat setelah Anugrah mengatakan ingin datang ke sini. Namun, karena saat itu ada teman-temannya dan kecanggungan di dalam mobil, baru sekarang ia bisa tanyakan.

"Tidak boleh, ya?" Raesha menoleh pada Anugrah. Alih-alih raut kecewa, justru wajah datarlah yang menghiasi pria itu. "Lagi bosan saja."

Jawaban klisenya, mau tak mau membuat Raesha mendecih. Bosan? Raesha tahu apartemen milik Anugrah sepi. Namun, harusnya pria itu pergi ke tempat lain saja alih-alih indekosnya.

Kata "Bosan" sudah Anugrah gunakan setiap kali pria itu datang ke indekos Raesha―atas izin Raefal tentunya. Raefal akan mengizinkannya jika Anugrah memenuhi syarat. Syaratnya bukan hanya membawa makanan, tetapi yang lainnya. Uang bensin, kaos, bahkan kolor, Anugrah menurutinya tanpa mengeluh. Makanan, tetap menjadi kebiasaan Anugrah jika berkunjung.

Sudah terhitung satu bulan lebih, dan Anugrah datang seminggu empat kali jika pria itu tidak sibuk. Elvan menaruh curiga, lalu bersikap biasa saja setelahnya.

Pertanyaan seperti, "bagaimana reaksi keluargamu saat muncul di hadapan mereka?" pada Anugrah, tetap tersimpan di dalam kepala Raesha. Namun, sepertinya Raesha sudah mendapatkan jawabannya ketika menghadiri pernikahan Ardi dan Yumna. Anugrah datang sendiri, dan tidak bergabung bersama keluarganya kecuali Adibrata dan keluarga kecil pria itu.

Raesha tentu datang ke acara pernikahan Ardi. Reza menjemputnya pagi itu, dan Raefal mengizinkannya dengan syarat membawa oleh-oleh. Reza sudah mengajaknya, tetapi Raefal tidak mau repot-repot menggerakkan kakinya di acara pernikahan orang yang tidak dikenal. Sebenarnya, Anugrah sudah mengajaknya untuk datang bersama, tetapi Reza-lah yang lebih dulu mengajaknya. Raesha tentu memilih Reza, bukan? Lagi pula, siapa Anugrah?

Dan entah keberapa kalinya Anugrah datang ke indekos Raesha. Kali ini dengan syarat membawa kaus dalam untuk Raefal, pun dengan makan malamnya. Elvan pun datang bersama Adisa.

"Aku masih tidak percaya, kau punya pacar," kata Raefal kepada Elvan. Menurutnya, Elvan tidak pantas jika bersanding dengan wanita sekelas Adisa. Betapa ruginya wanita itu. Raefal menyayangkannya.

"Iri bilang, Bang!" Elvan kesal saat Raefal berkata demikian. Dia pria yang baik, kok, paman Didi bahkan mengakuinya. Tentu saja ia mendapatkan wanita yang baik.

Raefal mendengkus, menendang kaki Elvan, lalu kepalanya menoleh ke kanan-kiri dengan ekspresi kecut. "Bangk*! Para pria pindah ke bawah! Tidak usah protes! Aku tuan rumahnya!" Padahal Raesha-lah yang tuan rumah.

Elvan yang sebelumnya duduk di samping Adisa, pindah ke bawah. Sementara Anugrah yang duduk di samping Raesha, juga pindah ke bawah. Hanya Raefal-lah yang duduk sendiri di sofa tunggal. Lalu pria itu mendengkus lagi.