A Closed Book

33. Homesicness

Sial*n!

Raesha terus berjalan mencoba menghindari Anugrah, atau pria itu bisa saja melihat wajahnya yang sudah merah―langit sore tidak dapat menyamarkannya. Namun, Anugrah lagi dan lagi mengimbanginya dengan mudah.

"Kamu marah?" tanya Anugrah berusaha melihat ekspresi Raesha, tetapi gadis itu terus menghindari tatapannya. Anugrah terkekeh. "Sori. Tadi itu cuma bercanda, kok."

"Bercandanya tidak lucu!" ketus Raesha. Wajahnya benar-benar masam, dan jantungnya hampir saja keluar dari dalam dadanya ketika Anugrah meraih tangannya. Tak butuh waktu lama, Raesha segera menepisnya, lalu kembali berjalan dengan cepat.

Bercanda versi Anugrah sungguh keterlaluan! Tidak lihat situasi!

Atau ... dirinyalah yang berlebihan menanggapinya?

Terserah! Raesha ingin pulang!

Kaki Raesha dengan cepat bergerak menuju tepi jalan, Anugrah masih setia mengikutinya dengan diam, tetapi mata hitamnya terus memaku wajah Raesha dari samping juga bibirnya yang terus melengkungkan senyum.

Dikira Raesha tidak bisa merasakan tatapan pria itu? "Hentikan itu!" Langkahnya terhenti, lalu menghadap Anugrah dengan telunjuk tepat mengarah pada hidung pria itu.

Berpura-pura tidak mengerti, Anugrah mengangkat sebelah alisnya, kembali bergaya seperti biasanya―kedua tangan masuk le saku celananya. Raesha berkedip beberapa kali, tetapi wajah ketusnya tidak menghilang.

"Jangan mengikuti aku, dan jangan banyak bicara! Atau aku ... tusuk matamu!" Raesha memperingati. Hari ini benar-benar kesal dengan sikap aneh Anugrah, bahkan sikapnya lebih aneh dari menjadi bos.

"Tusuk saja, tidak apa-apa." Anugrah menanggapinya dengan santai, dan hal itu semakin membuat Raesha bersungut-sungut.

Oke! Anugrah menantang dirinya. Tangannya bersiap untuk mengarahkannya pada mata hitam Anugrah, tetapi kecepatannya tidak bisa mengalahkan cahaya senter, sehingga Anugrah bisa mencegah dirinya dengan mudah―meraih tangan Raesha dan mencengkeramnya erat

"Bangk*!"

"Cantik-cantik tidak boleh berbicara kasar," sahut Anugrah santai, sesantai ekspresinya.

Jangan merona hanya karena Anugrah mengakui dirinya cantik! Anugrah yang sekarang, amat sangat menyebalkan dan ... menyeramkan! Raesha jadi takut.

"Aku mau pulang, Kampr*t!" sungut Raesha, masih berusaha melepaskan cekalan tangannya.

"Oke. Ayo." Anugrah menariknya tanpa memedulikan Raesha yang berontak.

Raesha hanya ingin menghindari pria itu. Tak bisakah dia pulang dengan mas-mas ojek saja?

"Aku mau pulang sendiri!"

"No!"

Dengar? Raesha sudah mengumpulkan segala macam umpatan dalam kepalanya, dan akan disemburkan jika dia tidak menyadari keadaan di sekitarnya. Beberapa orang melihat ke arah mereka, membuat Raesha bersikap biasa alih-alih berontak.

Sekarang, yang ada di dalam kepalanya adalah: kenapa dia bisa marah hanya karena candaan Anugrah? Dan ... kenapa pula dirinya menanggapinya dengan berlebihan?

"Kita belum jalan-jalan, loh. Aku ingin jalan-jalan dulu di sini." Raesha mendongak menatap Anugrah dari samping. Pria itu menatap lurus ke depan, lalu mengubah cengkraman pada lengan Raesha menjadi genggaman. "Kamu tidak keberatan, 'kan? Hanya beberapa menit."

Raesha mengalihkan pandangannya saat Anugrah menoleh ke arahnya. "Oke." Dan entah kenapa dia menerimanya alih-alih menolak.

Hanya berjalan-jalan santai, tidak ada obrolan atau pun perdebatan. Dan yang tidak disadari oleh mereka ialah, genggaman tangannya, masih saling menaut.

Raesha sibuk dengan memandangi cahaya sore yang elok menyinari kota. Rasa gemasnya muncul saat dilihatnya seorang anak perempuan berlarian. Sementara Anugrah, justru menatap lurus ke depan sesekali melirik Raesha.

Perasaan ingin pulang yang ada dalam diri Raesha beberapa menit lalu, hilang, dan akan bertahan sampai malam jika Anugrah tidak mengingatkannya. "Bentar lagi malem. Ayo pulang." Dan menarik tangan Raesha untuk menyebrangi jalan menuju depan mini market―tempat mobilnya terparkir.

Seakan baru menyadari posisinya, Raesha segera melepaskan genggamannya dari tangan Anugrah, lalu sesegera mungkin untuk masuk ke dalam mobil, tetapi Anugrah belum membukanya.

"Cepetan! Aku ingin pulang." Tidak sabar menunggu Anugrah yang jalannya berubah lambat dan belum juga membuka kunci mobilnya, Raesha menggeram dan menendang ban mobil.