A Closed Book

34. Keputusan

Anugrah membawanya memutar-mutar tidak jelas. Sampai pada akhirnya, pria itu memutuskan untuk pergi ke warung pecel lele, membungkus makanan untuk dirinya sendiri dan Raefal, karena Raesha sudah makan bersama teman-temannya tadi.

Tidak ada obrolan, keduanya saling diam dan tidak ada yang mau repot-repot membuka suaranya. Raesha ingin sekali menyalakan radio, tetapi dia tidak mau jika lagu yang muncul merupakan lagu yang menambah kecanggungan di antara mereka.

Ingin sekali menanyakan pekerjaan pria itu di Bali, atau bertanya tentang Elvan. Rasanya, hanya diam seperti ini membuat Raesha tidak nyaman.

"Kamu mau ke suatu tempat?" Justru Anugrah yang mulai membuka suara, pandangannya tetap ke depan, fokus mengemudi.

Kepalanya menoleh, Raesha menatap Anugrah mencari-cari sesuatu. Entah sesuatu apa itu, dirinya pun tidak tahu. Jika dilihat-lihat wajah Anugrah dari samping, terdapat kerutan di bawah mata pria itu, juga kulitnya berminyak.

"Kamu mulai suka sama aku?" Pertanyaan tiba-tiba dari Anugrah berhasil membuat Raesha tersentak, dan dengan cepat-cepat ia membuang muka ke luar jendela di sampingnya.

"Tidak usah percaya diri begitu," ketus Raesha, padahal jantungnya berdetak lebih kencang dan wajahnya memanas. Dia hanya ingin menghilangkan rasa aneh dalam dirinya.

Tiba-tiba saja Anugrah terkekeh. "Kamu ternyata tuli, ya. Atau kamu memang tidak mendengar karena fokus memperhatikanku?"

Bibir Raesha mengerucut dengan wajah masam, tetap menatap ke luar jendela.

"Mau ke suatu tempat?"

"Langsung pulang," jawab Raesha cepat, berhasil membuat Anugrah tersenyum samar.

Beruntung tidak memakan waktu lama. Setelah sampai, Raesha langsung turun dari mobil dan tergesa-gesa masuk ke dalam indekosnya. Kali ini, ia kesal karena apa? Anugrah hanya mengikutinya di belakang, berjalan santai tak menghiraukan Raesha yang cacingan.

"Baru pulang, kamu." Raefal duduk santai di sofa sembari menonton televisi, menilik tangan Raesha yang ternyata kosong lalu mendesah kecewa.

Tepat setelah Raesha masuk ke dalam kamarnya, Anugrah dibuat terkejut oleh kedatangan Anugrah. Tak pelak dirinya merasa senang Anugrah kembali datang, terlebih lagi membawa makanan.

Anugrah sudah tidak perlu lagi meminta izin dari Raefal jika mampir ke indekos Raesha. Raefal sudah membiarkan Anugrah datang kapan saja, asalkan tidak berbuat macam-macam pada adik sepupunya. Toh, Anugrah selalu datang di saat dirinya ada di indekos.

"Apa itu?" Alih-alih menanyakan kabar, Raefal justru menanyakan isi dari kantong plastik di tangan Anugrah.

"Pecel lele," jawab Anugrah, ikut mendudukkan diri di sofa tunggal.

Tepat saat Raesha keluar kamar dengan baju santai, Raefal segera menyuruhnya untuk mengambilkan alat makan dan minuman. Raesha menurut saja.

"Dari mana saja kau seminggu ini?" Raefal tidak bisa menahan rasa penasarannya. Menunggu-nunggu kedatangan Anugrah yang membawa makanan, tetapi pria itu justru tidak datang-datang. Uang bensin pun harus dirinya yang bayar.

"Ada kerjaan di luar pulau. Abang rindu, ya?"

Raefal mendelik. "Sejak kapan kau manggil aku Abang?" Terasa aneh mendengar panggilan itu dari mulut Anugrah. Akan lebih enak jika Anugrah menggunakan panggilan kau-aku.

"Sejak saat ini," jawab Anugrah santai, dan membuat Raefal curiga. Ada yang aneh.

"Omong-omong, Abang kangen gue? Kenapa?" Pertanyaan dari Anugrah membuat Raefal bergidik dan hampir menyemburkan nasi dari mulutnya.

"Bukan aku. Raesha yang rindu." Dan jawaban dari Raefal telah berhasil membuat Raesha menyemburkan tehnya sampai membasahi lantai.

Raesha terbatuk-batuk, menepuk dadanya, lalu dibantu oleh Raefal menepuk bagian punggungnya. Sial*n! Kenapa Raefal harus mengatakannya?! Dan lihatlah, kini wajah Raesha sudah merah.

"Kamu rindu padaku?" Anugrah hanya menatap Raesha yang masih terbatuk-batuk dengan santai, menyeruput kopinya menunggu jawaban.

Selesai dengan batuknya, Raesha mendelik ke arah Raefal. Punya Abang sepupu, tetapi sifatnya seperti teman laknat. "Tidak," ketus Raesha.

Tidak mungkin, bukan, jika dirinya harus berterus terang bahwa ia merindukan pria itu? Menunggunya di setiap pulang kerja, bertanya-tanya ke manakah Anugrah pergi. Gila?!

Sekarang, Anugrah sudah ada di dekatnya. Rasa rindunya telah hilang, tetapi telah digantikan dengan rasa malu. Anugrah terus menerus menggodanya dengan tatapan menyebalkan.

"Yakin?" Ternyata, selain berniat menggoda, pria itu juga penasaran.

"Iya. Terserah kamu hilang ke mana, aku tidak peduli. Tidak datang-datang ke sini, juga. Atau nyungsep ke comberan. Aku tidak peduli!"

Jawaban Raesha berhasil membuat tatapan Anugrah yang semula menyebalkan, semakin menyebalkan, terlebih lagi diiringi senyum yang bikin hati meleleh. Duh ... raesha telah salah bicara.

Harusnya dia diam saja dan membiarkan Anugrah menghentikan tatapan menyebalkannya. Kenapa malah dia bertingkah rikuh dan membalasnya dengan lemparan remot? Bagus saja kalau remot itu mengenai wajah Anugrah, tetapi malah meleset. Justru Raesha yang kena damprat oleh Raefal.

O romance será atualizado diariamente. Voltem e continuem lendo amanhã, pessoal!