Bertemu Lagi Denganmu

Bab 61 Sabun yang Berada di Depan Pintu

Bab 61 Sabun yang Berada di Depan Pintu

"Bagaimana?" Sherly bertanya dengan curiga.

"Tidak ada apa-apa." Friska menggigit bibirnya, dan berkata, "Dia sebenarnya tahu kalau kamu suka tunangannya, aku khawatir dia akan melakukan sesuatu yang jahat terhadapmu, jadi kamu lebih baik hati-hati."

Sherly tertawa, "Kak, dia yang seperti bunga teratai tidak akan melakukan apa-apa terhadapku! Tenang saja, dia tidak akan bisa membullyku, lebih memungkinkan kalau aku yang membullynya."

Friska masih dengan khawatir mengingatkannya, "Kamu juga biasanya lebih berbaik hatilah, jangan berpikir orang-orang itu polos."

"Kak, kenapa sekarang kamu malah membuat plot, kenapa? Apa kamu juga slek sama dia?"

"Mana mungkin aku slek sama dia."

Friska tertawa dengan terbahak-bahak, dengan tiba-tibanya dia kepikiran, tatapannya tegang melihat ke arah Sherly, "Sherly, ingat kamu jangan mengungkit masalahku di depan nona Melissa, termasuk Axelle dan Dylan. Meskipun dia tanya, juga tidak boleh kasi tahu, tahu ga?"

Sherly mengejapkan matanya, "Kak, kenapa? Ditambah, kenapa kamu merasa bahwa dia akan menanyakan ini?"

Friska menggigit bibirnya yang kering, tidak mau membohongi adiknya, tetapi dia juga tidak bisa menjelaskan masalahnya dengan Matteo, "Mending kamu jangan peduli lagi, pokoknya jangan kamu ungkit."

"Baiklah." Sherly menganggukkan kepalanya dengan terbingung, dan menjawabnya.

***

Malam hari, Matteo sedang duduk di ruang emergency.

Banyak pasien yang berada di ruang itu, masih satu kecelakaan mobil yang berkelanjutan, satu demi satu pasien didorong ke ruang operasi.

Friska duduk di ruang gawat darurat, melihat sosoknya yang sibuk, tatapan matanya memaparkan kasihan.

Dia tidak beristirahat dengan baik kemarin malam, sekarang juga sudah hampir lewat subuh, sepertinya malam ini akan sangat capek.

Sampai jam 1 subuh, hal yang ditangani Matteo sudah terlihat lebih santai.

Dia dengan cepat mencuci tangannya dengan antiseptis, setelah membersihkan dirinya, dia baru duduk di depan Friska.

Dia mengulurkan tangannya, menyentuh dahi Friska, dan menganggukan kepalanya dengan puas.

Demamnya sudah turun.

"Minum obat ga untuk mengsolidasikan kondisi tubuh?"

Dia bertanya Friska, suara yang serak seperti angin yang bertiup dengan pelan, mendidih di telinga Friska, membuat hatinya berdetak dengan kencang.

Dia menganggukkan kepalanya, "Iya, sudah makan, kamu? Apakah kamu ada beristirahat sebentar hari ini? Atau sudah sibuk dari pagi sampai sekarang?"

Friska melihatnya dengan panik, tidak sulit melihat matanya ada kekhawatiran dan kepedulian.

"Cemasin aku?"

Bibir Matteo tersenyum.

Friska memoncongkan mulutnya, "jangan bercanda, Sherly bilang pagi ini dia melihatmu di bawah rumah kami, kemarin kamu tidak pulang kan, kamu tidur di mobil semalaman?"

"Bukankah aku sudah bilang, aku sudah tidak bisa menyetir." Matteo menyampaikannya dengan jujur dan tersenyum, "Daripada capek menyetir, mendingan beristirahat sebentar di mobil, setidaknya lebih aman, benar ga?"

"Aku kira kamu bercanda."

Friska merasa bersalah.

"Kamu datang ke sini dan menungguku lama, hanya untuk bilang ini?" Matteo mengerutkan dahinya, dan bertanya.

jam berapa bisa

"Ya?"

1 lebih, jangan bilang sama aku bahwa kamu baru bisa pergi pagi ini." Friska melihat jam yang

dengan

lembur begini, kamu masih muda, masih belum kerasa, tunggu

"Ya sudah, ayuk pergi!"

Matteo berkata dan berdiri.

melihatnya dengan tidak mengerti,

aku sendiri tidak

tersenyum, "Kamu yang jadi dokter, bisa

menuju kantor neurosurgery, "Sebenarnya aku sudah bisa pulang dari jam 10, tetapi ketemu hal yang darurat, makanya lembur beberapa jam, aku balik ke kantor mandi,

"Baiklah."

kepalanya, dan mengikutinya ke

ada seorangpun di kantor, "tunggu aku di sini sebentar, kalau bosan main

Friska ke depan komputernya dan

"Baik????"

tahu kenapa dia mau menunggunya, ini sepertinya bukan tujuan utamanya, tetapi, sekali menunggu, dia sepertinya

benarkah ini hanya karena tidak enakan? Apakah itu dicampur dengan emosi yang tidak rela

ke dalam kamar mandi

depan komputernya, melamun melihat wallpaper

sebenarnya penasaran apakah foto itu masih ada, tetapi

"Friska."

ada suara perintah

"Ya?"

dan

aku ambilin handuk, di lemariku,

"Ah? Oh????"

sebentar, dia baru sibuk

"Aku sudah di sini."

mengambil handuknya, dan berjalan menuju

"Berikan padaku."

berotot, keluar

sesuatu yang licin, dia dengan tidak sengaja

"Ah????"

Friska berteriak terkejut.

melompat ke depan, tiba-tiba, merasa pinggangnya sangat

dalam pelukan yang basah, wajahnya yang menghangat melekat ke otot-otot di dadanya,

jangan terlalu tidak sabaran kan

atas kepala, terdengar suara

Wajah Friska tiba-tiba memerah.

di depan dadanya, garis tekstur yang seksi tepat di depan mata Friska, membiarkan

lebih tidak menundukkan

air yang sudah mendidih,

ternyata tidak memakai apa-apa, dan bagian bawah yang seperti hutan hitam itu, berbaring di depan matanya, daging pink

Sejenak, pikiran Friska mendengung.

"Lihat apa?"

kepalanya, terdengar suara

ada nada seksi,

Friska terbingung????

sekarang sedang berdetang dengan

"Aku????Aku keluar dulu."

Friska ingin melarikan diri.

memerah ini, Matteo tersenyum

dada semakin besar, lengan yang berada di pinggangnya juga semakin erat, tubuh yang

sebelumnya, dan dengan kedatangan kemesraan yang tiba-tiba, dan suasana

jelas, barang yang menahannya di bawah, semakin

Bình Luận ()

0/255