Cinta Setelah Menikah

Bab 122 Harapan Terakhir

Bab 122 Harapan Terakhir

"Ayo." Steven mengangguk dan tersenyum senyum.

Aula sudah penuh orang yang sedang menunggu filmnya dimulai, Steven melihat-lihat ke sekitarnya, tiba-tiba bayangan seseorang menarik perhatiannya.

Kepalanya tertunduk, rambutnya yang hitam menutupi setengah wajahnya, penampilannya yang tidak asing, sangat mirip dengan seseorang.

Jantung Steven mulai berdebar. Dia pun berlari ke arah orang itu.

"Steven, kamu mau kemana?" melihat Steven tiba-tiba berlari, Betty juga ikut berlari.

Semakin dekat, detak jantung Steven semakin kencang, akhirnya setelah hampir sampai di depan orang itu, dia berhenti.

Dia tidak salah orang, perempuan yang duduk di sana itu Kenzie.

Banyak yang ingin ia keluarkan dari hatinya, tapi satu kata pun tidak bisa terucap dari mulutnya. Steven mau bicara, tapi tengorokkannya seperti tercekat.

Betty juga ikut menghampiri wanita itu, sekali lihat, dia langsung mengenali Kenzie yang masih menunduk sambil bermain ponsel. Rasa cemburunya dengan cepat naik, seperti racun ular. Wajahnya yang manis pun sedikit mengerut.

Steven berdiri di depan Kenzie dalam diam, tidak berani bicara. Dia takut, sekali ia bicara, Kenzie akan langsung menghilang, dia masih harus menunggu beberapa tahun lagi untuk melihatnya.

Seperti bisa merasakan bahwa dirinya sedang diperhatikan, Kenzie tiba-tiba mengangkat kepalanya.

Matanya menatap lurus Steven.

Steven....

Mata Kenzie penuh dengan rasa terkejut, dan..... sedikit rasa malu.

"Kenzie! Kamu kemana saja? Aku menelepon kakakmu, dia berkata bahwa kamu meninggal karena kecelakaan." Steven masih merasa dirinya sedang bermimpi, tidak percaya ia masih bisa bertemu dengan Kenzie.

"Ha? Aku tidak kecelakaan kok, aku pergi ke Amerika dan tinggal disana untuk beberapa waktu." ucap Kenzie pelan-pelan sambil melihat Betty yang berada di sebelah Steven.

Wajah Steven yang selalu gentle itu tiba-tiba terlihat tertekan: "Kenzie, apa kamu baik-baik saja selama berada di Amerika?"

"Dia di Amerika baik-baik saja atau tidak, apa urusannya denganmu? Steven, bukankah perhatianmu ini terlalu berlebihan?" Ucap Betty dengan tajam. Omongannya itu memang untuk Steven, tapi kemarahnya itu tertuju pada Kenzie.

Tidak mau terjebak di tengah-tengah keributan Steven dan Betty, Kenzie pun berdiri, tersenyum ke Steven: "Steven, temanku sebentar lagi datang, aku kesana dulu ya."

Dia juga mengangguk dengan sopan ke arah Betty, lalu bersiap-siap untuk masuk ke dalam.

"Kenzie, aku peringati kamu ya! Jauh-jauh dari tunanganku! Jangan murahan!" Ucap Betty dengan kesal.