Extramarital Love

Bab 105 Kepanikan Tengah Malam

Bab 105 Kepanikan Tengah Malam

Ini mungkin adalah komplek tua Birtania, gang-gang ada di semua arah, aku dengan cepat berlari di dalam gang, tidak tahu beberapa tikungan yang aku lewati sebelum berhenti untuk beristirahat.

Dengan begini, Guntur tidak dapat menemukanku bukan?

Aku berdiri bersandar di dinding untuk sementara, kemudian mengikuti arah gang kecil berjalan lurus.

Di tempat semacam ini, hanya ada sedikit lampu jalan, jaraknya berjauhan, lampu yang redup hanya bisa menunjukkan tempat seukuran manusia, tempat-tempat lainnya gelap.

Aku berjalan setapak demi setapak, tidak berapa lama, tiba-tiba aku merasa sedikit aneh, aku merasa selain suara jejakku sendiri, ada lagi jejak suara seseorang, tetapi bertumpang tindih dengan suara langkahku, aku benar-benar tidak memperhatikan pada awalnya.

Apakah itu Guntur?

Aku ragu-ragu, tiba-tiba berdiri diam.

Langkah kaki di belakangku juga ikut berhenti.

Tepat ketika aku ragu-ragu apa aku seharusnya kembali atau tidak, orang di belakangku tiba-tiba membekap mulutku, menyeretku ke sudut.

"Oh--" Aku takut dan berteriak, berjuang mati-matian untuk melawan.

Orang ini tinggi besar, sangat kuat, dengan satu lengan dapat mengekang leherku, dengan mudah menekanku ke sudut lantai.

Dia membekap mulutku dengan satu tangan, tangannya yang lain merobek pakaianku, aku berusaha untuk berteriak dan memukulnya, menendangnya, menggunakan seluruh tenaga, juga tidak dapat menggoyahkannya sedikit pun.

Aku dengan jelas dapat merasakan, sebuah tangan dingin menyentuh kulitku, aku berteriak ketakutan, tetapi jeritan itu diredam olehnya.

Srekk, suara kain robek terdengar, kemudian sesuatu dimasukkan ke dalam mulutku, dia seperti membalik sepotong kayu, dengan ganas membalikkanku, kedua tanganku dijepit di samping tubuh, aku seperti ikan yang sekarat, menggeliat di tanah dengan sia-sia.

Tidak bisa menghindar! Tidak bisa menghindar!

Aku lebih rela menabrakkan kepalaku ke tembok, tidak ingin dia melakukan penghinaan seperti ini kepadaku.

"Mm mm mm!" Aku menggelengkan kepalaku dengan putus asa, mencoba menyingkirkan sesuatu yang ada di mulutku, mengeluarkan teriakan minta tolong dari rongga hidungku.

Tetapi ini semua ini tampaknya membuat pria itu lebih bergairah, dia menundukkan kepala dan bergerilya di atasku, bau busuk yang tercium membuatku mual.

Aku merasakan dia sedang menarik celanaku, tubuhku kaku, tiba-tiba aku merasakan udara dingin, dia hampir mendapatkannya, kesadaran ini membuat otakku kosong, seketika lupa bagaimana aku harus melawan.

Kakiku dipaksa untuk dipisahkan, pria itu menekanku dengan nafas terengah-engah.

Aku tiba-tiba dikejutkan, dengan seluruh tenaga menendangnya, tidak tahu menendangnya di bagian mana, tiba-tiba dia kesakitan, kemudian melepasku.

Aku benar-benar tidak bisa percaya, aku bisa terbebas.

Dengan cepat aku bangun, langsung berlari, dengan satu tangan membuang kain yang ada di mulutku, aku akhirnya berteriak dengan kencang: "Tolong – tolong--"

Teriakan melengking bergema di dalam gang pada larut malam, dalam gelap, tidak ada pergerakan apapun.

Dari belakang terdengar suara langkah kaki orang yang mengejarku, aku tidak berani untuk berhenti, berlari tidak tentu arah sambil berteriak minta tolong, tapi sampai orang itu kembali menangkapku, aku sama sekali tidak melihat sosok siapapun......

"Tolong – Tolong--"

terus-menerus mencakarnya, tidak membiarkannya

itu menjambak rambutku dengan kejam, menghempaskan

pria itu mengambil kesempatan kemudian

Ya Tuhan, sebaiknya biarkan aku mati saja! Biarkan aku mati saja? Kenapa aku harus mengalami hal seperti ini? Kesalahan apa

yang akan menyelamatkanku, sama seperti

melawan, berbaring di

kamu

ini, suara Guntur tiba-tiba terdengar, berada tidak

daripada pria di atas

aku! Tolong

kemudian dengan sekuat tenaga

kemarahan Guntur terdengar: "Siapa

melepaskan tangan pria itu, berteriak dengan

Guntur yang keras, lalu bayangan hitam lewat, tubuhnya ringan, orang yang

menangis sambil berteriak: "Guntur

meringkus preman itu, melepaskan tangannya kemudan berlari ke arahku: "Luna, apa kamu

Aku langsung memeluknya, menangis

Tuhan mengirim Guntur untuk menyelamatkanku, aku

telinga, Guntur buru-buru menarik lenganku: "Luna, tunggu sebentar, tunggu aku menangkap

tinggalkan aku!" Aku memeluknya tanpa peduli apapun, seperti memegang cabang yang mencuat di tepi tebing, jika membiarkannya pergi, aku akan jatuh ke dalam jurang, "Jangan tinggalkan aku, kumohon padamu, aku takut

tidak akan meninggalkanmu."

erat-erat, menangis terus-menerus, tidak berhenti menangis

......

tulangku patah, berbaring di tempat tidur, aku melihatnya bingung untuk waktu yang lama, baru teringat apa

bangun terduduk dengan

buru-buru berkata sambil memegangku, "Maaf, aku

membersihkan badan, mengobati luka, untungnya, itu

menelan air mata yang asin: "Presiden Guntur, terima kasih

ragu-ragu kemudian menunjuk ke

mengenakan jubah mandi hotel, menunjukkan kulit di dadaku, tetapi tidak

mengerti

aku pergi ke kamar mandi untuk mengatasinya." Aku malu sambil turun dari ranjang, bersembunyi

menyakitkan, karena tidak ada Nan nan yang bisa

jatuh ke wastafel,

seharusnya adalah makanan

berhenti, dan dia tidak akan bisa

menangis di dalam kamar

yang sama melihatku, aku berdiri di depan pintu kamar mandi, dengan ragu-ragu bertanya: "Sekarang

malam ..."

"Presiden Guntur, bisakah merepotkanmu

di dekat jendela, di sana

sudah membantuku

kasih banyak, berjalan kesana mengambil pakaian kemudian pergi ke kamar

"Aku akan mengantarmu pulang."

aku keluar lagi, Guntur

selalu berpikir bahwa dia adalah

hotel, dia membawa mobil mengantarku ke depan

yang sama sekali tidak ada cahaya, aku tidak bisa

Bình Luận ()

0/255