The Secret Daddy

Bab 4. Menyalurkan hasrat

Senja pun telah beranjak ke peraduannya, dan berganti dengan gemerlap cahaya bintang yang berkilauan. Suasana malam bertabur bintang di hari ini semakin menghiasi gelapnya malam. Setelah sebelumnya menghubungi pria yang sangat tidak disukainya, untuk bertemu di sebuah restoran, kini Aliando sudah duduk di kursi yang terletak di sebelah belakang paling ujung dengan tembok dan dekat dengan pintu keluar. Mempunyai tubuh sixpack dan wajah tampan yang selalu menjadi idaman kaum hawa, membuatnya selalu menjadi pusat perhatian di manapun ia berada.

Pria yang memakai kemeja berwarna putih dengan lengan di lipat sampai siku, tengah menyilangkan kedua kakinya seraya tangannya bersedekap pada dadanya, menunggu sosok yang ditunggunya. Tak lama menunggu, datanglah sosok orang yang dinantikannya.

Pria yang sangat tidak disukainya, yakni yang bernama Faqih Alfawaz merupakan pegawai baru di perusahaannya dan dekat dengan kekasih yang sudah lama menjalin hubungan dengannya. Karena ia sangat tidak suka ada seorang pria yang berteman dengan wanita yang sangat dicintainya. Tentu saja ia sangat posesif dan tidak membiarkan ada pria lain dekat dengan wanitanya.

Pria dengan rahang tegas, mata bulat dilengkapi bulu mata lentik serta alis pekat tebal dengan hidung mancung dan bibir tebal yang sangat menggoda kaum hawa. Tak lupa badan tinggi tegapnya membuatnya terlihat gagah meskipun hanya memakai kemeja murahan. Ia adalah Faqih Alfawaz, kaki panjangnya melangkah kedalam restoran dan melihat sekeliling untuk mencari keberadaan sosok yang dicarinya. 

Setelah menemukan Aliando, ia pun menghampirinya dan mencoba mengulurkan tangannya pada kekasih dari wanita yang diincarnya, namun tak mendapatkan sambutan dari pria yang duduk di depannya itu. "Selamat malam Pak Aliando. Apa Anda sudah lama menungguku?" Faqih mendaratkan tubuhnya di kursi dan duduk di depan Aliando.

"Ooh ... kau sudah datang. Mungkin aku baru duduk 5 menit disini, kau sangat tepat waktu sekali. Aku sangat menghargai kedisiplinanmu itu." Aliando mencoba berbasa basi dan berpura-pura tersenyum.

"Sepertinya ada hal serius yang ingin Anda bicarakan denganku Pak Aliando. Sebenarnya ada apa?" tanya Faqih dengan tatapan datarnya seraya mendaratkan tubuhnya di kursi yang berada di sebelah kanan Aliando.

"Ooh ... jangan terburu-buru, lebih baik kita makan saja dulu. Aku sangat lapar karena belum makan malam ini, jadi lebih baik kita makan dulu. Apa kamu tidak keberatan?" sahut Aliando yang mencoba untuk mengulur waktu hingga Alisa datang.

"Baiklah Pak, tentu saja saya tidak keberatan." Faqih masih menanggapi dengan sikapnya yang tenang.

Aliando menggerakkan tangannya ke depan, "Jangan panggil aku Pak kalau tidak sedang berada di kantor, panggil saja aku Al karena sepertinya kita seumuran." Kemudian ia memanggil pelayan dan memulai memesan makanan dan minuman.

Beberapa menit kemudian, pelayan datang dan membawakan pesanan mereka.