Cinta Setelah Menikah

Bab 126 Apakah Boleh Menerimanya

Bab 126 Apakah Boleh Menerimanya

Seusai menyelesaikan pembicaraan, Nindi kembali ke ruang tamu dan menyadari bahwa Kenzie tidak ada di ruang tamu. Lalu Nindi pun bergegas mencari di kamarnya, tapi Kenzie tidak ada di kamarnya.

Aneh, sudah jam segini, Kenzie pergi kemana? Nindi memanggil namanya beberapa kali,tapi tidak mendapat respon apapun. Lalu Nindi pun segera mengambil ponselnya dan menelepon Kenzie.

Dibawah tumpukan baju yang berantakan dibelakang kursi itu, terdengar dering ponsel Kenzie.

Setelah mendengar bunyi ponselnya, Kenzie yang sekujur tubuhnya terasa panas itu, baru mulai tersadar dari mimpinya.

Kenzie mencoba untuk mencari ponselnya dengan menjulurkan tangannya kedalam tumpukan pakaiannya itu.

“Seharusnya tadi aku mengabarinya dulu, pasti Nindi cemas karena dia tidak bisa menemukanku.” pikir Kenzie dalam hati dan sedikit menyesali perbuatannya.

"Jangan diangkat!" Reyhan berkata dengan nada memerintah sambil menghalangi tangan Kenzie.

"Ini telepon...dari...Nindi." Kenzie berkata dengan nada yang bergetar.

Wajah bersih Reyhan mulai memerah, nafasnya juga terdengar semakin berat dan dengan dahi yang dikerutkan itu ia berkata, "Jangan diangkat!".

Nindi semakin ketakutan karena tidak dapat menghubungi Kenzie.

“Sudah selarut ini, Kenzie pasti membawa ponselnya jika keluar, kenapa ia tidak menjawab telepon dariku? Jangan-jangan sesuatu terjadi padanya?”

Nindi pun segera menghubungi Ethan setelah teringat bahwa pada saat makan siang tadi, Ethan merampas ponselnya dan menyimpan nomornya diponsel ini.

Ethan baru selesai mandi. Melihat telepon dari Nindi, Ethan pun tersenyum.

"Ada apa Nindi, apa kamu sudah rindu padaku? Kita kan baru berpisah." Ethan berkata dengan suara angkuh.

"Siapa yang rindu padamu! Jangan bermimpi!" Nindi menjawab dengan nada ketus, "Ethan, coba kamu hubungi Reyhan, lalu tanyakan apakah Kenzie sedang bersamanya!"

Ethan terkejut, "Tadi malam bukannya kita sudah mengantar kalian ke rumah?"

"Iya, Kenzie tadi pulang bersamaku. Tadi aku pergi ke balkon untuk menelepon sebentar dan waktu aku kembali, Kenzie sudah tidak ada!" Nindi berkata dengan nada yang khawatir, "Aku mencoba meneleponnya, tapi tidak di angkat. Aku takut sesuatu terjadi padanya."

setelah mengantarnya dia pulang, Reyhan keluar lagi, saat itu Ethan masih mengira kalau Reyhan masih ada urusan, jadi

rumah tempat

satu minggu saja? Sebenarnya jimat apa yang digunakan

usah khawatir, Kenzie pasti baik-baik saja. Bisa jadi...sedang

terlalu terus-terang dan membuat wajah Nindi memerah dalam

Reyhan, aku ingin menghubunginya!" Nindi sangat khawatir kalau sesuatu terjadi pada

akan mengirimkanmu nomor ponsel Reyhan."

memikirkan bahwa Nindi besok akan bekerja di kantornya. Ethan sangat menantikan

terasa pengap, di bawah

itu adalah telepon dari Raja Surgawi sekalipun, Reyhan

dan mematikan ponselnya. Reyhan pun

tubuh Kenzie membuat Reyhan

di angkat, ponsel Reyhan tidak aktif. Nindi sangat khawatir dan tidak bisa berhenti berjalan

di atas bahu

aku pulang, Nindi

malu, mengapa setiap kali selalu

sebelumnya dia dan Reyhan sangat cocok, tapi didalam hati Kenzie, ia sadar bahwa sebenarnya Reyhan tidak cocok dengannya, Kenzie tidak mungkin menjalani sisa hidupnya dengan laki-laki

melepaskannya, tetapi mengapa mereka masih bisa melakukan

kacau,yang ada didalam pikirannya hanyalah ia ingin

Jangan membohongi dirimu sendiri." Reyhan berkata dengan suara yang sedikit bosan dan dengan posisi kepalanya

"..."

saja kita lakukan?" Reyhan bertanya sambil mengangkat kepalanya, senyum tipis menghiasi

"..."

hati,Itu hanya reaksi biologis saja, secara biologis

tetap bersandar pada Kenzie. Lalu dengan perlahan mengambil kotak kecil

mendudukannya diatas pangkuannya, jarak antara mereka sangat

dibelakang telinga Kenzie,

bisa menerimanya."

melihat tubuhnya yang tanpa busana sedang bersentuhan dengan tubuh Reyhan. Seperti sepasangan kekasih yang

Jadi apa ini sebenarnya?

kekasih, tetapi mereka juga bukan hanya sekedar teman biasa, jadi kenapa Kenzie tidak bisa

tiba-tiba marah setelah mendengar

Bình Luận ()

0/255