Presdir Galak!

Bab 760 Aku Tidak Mencintaimu

Bab 760 Aku Tidak Mencintaimu

"Guru? He he! Guruku sejak tiga tahun yang lalu sudah tidak ada di dunia ini, sekarang orang yang berdiri di hadapanku ini adalah orang yang membunuh ayah dan ibuku, musuh yang menghancurkan keluargaku."

Senyum Lukman tiba-tiba menghilang, sebaliknya yang muncul di wajahnya adalah wajah yang dingin dan hawa membunuh.

"Heh! Cuma kamu, ingin melawanku? Kejadian tiga tahun yang lalu itu karena kelengahanku sehingga membuatmu berhasil!"

Oyong menatap Lukman lekat-lekat, karena takut Lukman tiba-tiba menyerangnya saat dia lengah.

"Acong, kalian mundur, sepertinya aku harus turun tangan sendiri."

Lukman memberi isyarat kepada Acong untuk mundur. Acong tentu saja mengerti bahwa dendam semacam ini tentu saja harus bos sendiri yang membalasnya dan orang lain sama sekali tidak boleh ikut campur.

Oyong adalah mangsanya, Lukman.

Serangan kali ini dilakukan oleh Oyong terlebih dahulu, Oyong merasa harus menyerang terlebih dahulu.

Lukman memegang pistol di tangan kirinya. Pistol yang berada di tangannya seperti benda yang bernyawa, pistol di tangan kirinya berada di jari tengahnya berputar-putar.

Senter di bawah laras senapan juga dinyalakan dan sinar laser itu terus-menerus disapukan ke mata Oyong yang sedang menyerang kemari.

***

Pada saat yang sama, pistol di tangan kanannya diangkat dengan cepat, gerakannya sederhana dan konsisten membuat gerakannya tidak terlihat.

Pistol di tangannya itu telah menjadi perpanjangan tangannya, seperti tinju besi berduri yang menusuk ke arah Oyong.

Sekarang Oyong belum mencapai jangkauan serangan optimal sehinggaLukman tidak terburu-buru untuk menembak.

Cahaya menyilaukan yang dipancarkan oleh pistol Oyong, tidak diliihat olehLukman, Lukman tetap berdiri dengan tenang dan mengibaskan tangannya tangannya, lalu menembakkan pistolnya. Namun, karena tangan kanan Lukman telah berubah menjadi pistol tinju, Oyong terpaksa menggunakan pisau untuk menangkis.

Pada saat mereka saling menyerang, pergelangan tangan Lukman masuk dan moncong pistolnya diturunkan, "dor" terdengar sebuah tembakan.

Namun tidak disangka rubah tua itu mengambil kesampatan dari situasi itu, dia menyelinap kebawah dan berbelok ke luar, lintasan peluru yang ditembakkan Lukman menyerempet paha kirinya.

Lukman mengangkat tangan kirinya sedikit, dia dengan mudah menghindari peluru yang baru saja ditembakkan oleh Oyong, dengan sekali cengkramannya pistol yang terus berputar di udara tiba-tiba berhenti seperti dihentikan oleh sebuah kekuatan yang tak terlihat yang moncongnya langsung di arahkan ke wajah Oyong.

Tangan kanan Oyong yang memegang pisau melawan tangan kanan Lukman, sementara tangan kirinya sudah terlambat untuk mengikutinya. Melihat bahwa dia akan dipukul, dia tidak mundur malah maju, dengan satu putaran tubuhnya beputar ke arah punggung Lukman, pada saat yang sama tangan kirinya ke arah luar, "dor" satu tembakan Lukman ini tidak mengenainya.

Sudah terlambat, sekarang hendak menarik pistol.

Sepasang tangan Oyong itu ditangkap oleh Lukman, tidak peduli bagaimana tangannya bergerak, tetap saja tembakannya tidak bisa mengenai Lukman.

Lukman, bocah itu berjarak sedemikian dekatnya dengan dirinya, dia setiap saat bisa membengkokkan sikunya atau menyepakkan kakinya ke belakang, gerakan itu baru bisa dikatakan sangat kejam.

Rubah tua Ouyang memikirkannya strategi dengan seksama, serangan baliknya hanya dua gerakan, pertama adalah mengambil kesempatan untuk mengerahkan segenap kekuatan yaitu dengan kekuatan lengannya yang besar untuk meremas kepalanya, atau menggunakan dahinya untuk dihantamkan ke belakang kepalanya.

Tapi jelas yang terakhir sepertinya tidak akan berhasil, bagaimana dengan kekuatan lengan?

Oyong juga tahu bahwa kekuatan lengan Lukman tidak dapat dibandingkan dengan kekuatan manusia, apalagi kecepatan gerakannya sangat cepat dan lincah, seperti ikan yang berenang, dirinya masih belum mengerahkan kekuatan, takutnya dia sudah duluan menyerang, pada saatnya yang di atas angin masih bocah tengik ini.

Ketika Oyong sedang memikirkan strategi, Lukman mengambil kesempatan bersalto di udara dan mendarat sampai di belakang tubuh Oyong.

Moncong pistol menempel di belakang kepala Oyong, Oyong langsung merasa suram, apakah dirinya kalah lagi?

aku hanya bertanya satu pertanyaan kepadamu, mengapa kamu memperlakukan ayah dan ibuku seperti itu?"

telah menyebar ke

membuka mulutnya perlahan,

suara pukulan Lukman di belakang

jatuh pingsan.

pantas untuk membuatku turun tangan sendiri!"

akan membereskannya, Anda telah

dengan langkah

untuk menyelamatkanmu,

dapat

gemetaran, dia merasakan hatinya sedikit sakit.

sedang kamu katakan, Anissa, mengapa

Wisnu terdengar sangat menderita.

aku katakan, kamu jangan bersikeras mengira kalau aku meninggalkan Lukman

***

perasaanku terhadapmu lebih seperti terhadap keluarga. Aku sekarang baru mengerti, ternyata itu sama sekali bukanlah cinta."

suara, dia menundukkan

ibuku yang memberiku perasaan hangat, setiap kali aku terluka, aku ingin meminjam tempat aman untuk bersembunyi, apakah kamu

mengerti sebenarnya perasaannya kepada

masa lalu juga keliru mengira itu adalah perasaan suka, perasaan

begitu banyak hal, kehilangan

baru menyadari, ternyata ini semua adalah salah paham. Dia sama sekali tidak

semua tidak benar, benar kan? Apakah kamu sedang berbohong?"

wajahnya melalui cahaya lampu yang

karena kamu telah memberikan kehangatan dan perasaan aman, tetapi kuharap kamu jangan karena perasaan

dipotong oleh Wisnu.

apa? Kamu ingin bilang kalau aku sudah gila, bukan? He he, Anissa, kamu sekarang mencintai Lukman, bukan? Kamu mencintainya maka mencampakkan aku? Kamu mengatakan kepadaku kalau itu bukan cinta. Bagaimana kamu bisa memperlakukan aku begitu

bergetar, sorot mata yang sedih membuat Anissa tidak tahan untuk melihatnya secara

Mengapa

kepada Anissa, tetapi lebih mirip sedang bertanya kepada dirinya sendiri.

seperti ini."

dia tidak

pernah mempunyai perasaan

rasa jijik, tidak ada kebencian, yang ada sekarang hanyalah rasa

semua bukan yang dia inginkan, tetapi semua yang telah dilakukan oleh Wisnu,

bisa kamu tidak mencintaiku? Bagimana mungkin perasaan di antara kita adalah kasih sayang terhadap

berharap kamu bisa menjadi kakakku, menjagaku, melindungiku, daripada seperti sekarang, menyiksa dirimu sendiri,

kamu bohong, kamu

terguncang, menerjang ke arah

kamu tenanglah,

menyadari bahwa dia tidak bisa bisa mengalahkan pria gila

terdengar bunyi pintu

di lantai, menggeliat

lampu sorot yang tak terhitung jumlahnya, langsung membuat

pintu, dia tertegun sejenak, kemudian langsung menghampiri ke sebelah Anissa dan Wisnu.

mendongakkan kepalanya memandang ke arah pria yang menerjang

"Lukman!"

nama yang paling tidak ingin dia

sudah pernah memberimu kesempatan. Kamu sama sekali tidak pantas untuk berebut denganku, apakah kamu masih tidak mengerti?"

***

Bình Luận ()

0/255